Tuesday, February 10, 2015

PERKEMBANGAN AGAMA PADA REMAJA

BAB II
PEMBAHASAN
PERKEMBANGAN AGAMA PADA ANAK USIA REMAJA
1.1  PERKEMBANGAN JIWA AGAMA PADA REMAJA
Dalam pembagian tahapan perkembangan manusia, maka masa remaja menduduki tahap progresif. Dalam pembagian yang agak terurai masa remaja mencakup masa juvenilitas (adolescantium), pubertas, dan nubilitas.
Masa remaja disebut juga sebagai masa penghubung atau masa peralihan antara masa anak-anak dengan masa dewasa. Pada masa ini terjadi perubahan perubahan besar dan esensial mengenai kematangan fungsi-fungsi rokhaniyah dan jasmaniyah. Sejalan dengan perkembangan jasmani dan rohaninya, maka agama para remaja turut dipengaruhi perkembangan itu. Maksudnya penghayatan para remaja terhadap ajaran agama dan tindak keagamaan yang tampak pada remaja banyak berkaitan dengna faktor perkembangan tersebut.
Perkembangan agama pada para remaja ditandai oleh beberapa faktor perkembangan rohani dan jasmaninya. Perkembangan itu antara lain :[2]
a.       Pertumbuhan Pikiran dan Mental
Ide dan dasar keyakinan beragama yang diterima remaja dari masa kanak-kanaknya sudah tidak begitu menarik bagi mereka. Sifat kritis terhadap ajran agama mulai timbul. Selain masalah agama merekapun sudah tertarik pada masalah kebudayaan, sosial, ekonomi, dan norma-norma kehidupan lainnya.
b.      Perkembangna perasaan
Perekembangan telah berkembangna pada masa remaja. Perasaan sosial, etis, dan estetis mendorong remaja untuk menghayati perikehidupan yang terbiasa dalam lingkungannya.
Kehidupan religius akan cenderung mendorong dirinya lebih dekat ke arah hidup yang religius pula. Sebaliknya, bagi remaja yang kurang mendapat pendidikan dan siraman ajaran agama akan lebih mudah didominasi dorongan seksual. Masa remaja merupan masa kematangan seksual. Didorong oleh perasaan ingin tahu dan perasaan super, remaja lebih mudah terperosok kearah tindakan seksual yang negatif.
c.       Pertimbangan sosial
Corak keagamaan para remaja juga ditandai oleh adanya pertimbangan sosial. Dalam kehidupan keagamaan mereka timbul konflik antara pertimbangna moral dan material. Remaja sangat bingung menentukan pilihan itu. Karena kehidupan duniawi lebih dipengaruhi kepentingan akan materi, maka para remaja lebih cenderung jiwanya untuk bersikap materialis.
d.      Perkembangan moral
Perkembangna moral para remaja bertitik tolak dari rasa berdosa dan usaha untuk mencapai proteksi. Tipe moral yanh juga terlihat pada para remaja juga mencakupi:
1.      Self-directive, taat terhadap agama atau moral berdasarkan pertimbangna pribadi.
2.      Adaptive, mengikuti situasi lingkungan tanpa mengadakan kritik.
3.      Submissive, merasakan adanya keraguan terhadap ajaran moral dan agama.
4.      Unadjusted, belum meyakini akan kebenaran ajaran agama dan moral.
5.      Deviant, menolak dasar dan hukum keagamaan serta tatanan moral masyarakat.
e.       Sikap dan minat
Sikap dan minat remaja terhadap masalah keagamaan boleh dikatakan sangat kecil dan hal ini tergantung dari kebiasaan masa kecil serta lingkungan agama yang mempengaruhi mereka (besar kecil minatnya).
f.        Ibadah
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh Ross dan Oskar Kupky menunjukkan bahwa hanya 17 % remaja mengatakan sembahyang bermanfaat untuk berkomunikasi dengan tuhan, sedangkan 26% diantaranya menganggap bahwa sembahyang hanyalah merupan media untuk bermeditasi
Masa Remaja Pertama (13 – 16 tahun)
Setelah si anak melalui usia 12 tahun, mereka memasuki  masa goncang, karena pertumbuhan cepat di segala bidang. Pertumbuhan jasmani yang pada usia sekolah tampak serasi, seimbang dan tidak terlalu cepat, berubah menjadi goncang.
Semua perubahan jasmani yang nampak pada usia ini menyebabkan kecemasan pada remaja. Bahkan kepercayaan kepada agama yang telah tumbuh mungkin juaga mengalami kegoncangan, karena ia kecewa terhadap dirinya. Maka kepercayaan remaja terhdap tuhan kadang-kadang sangat kuat, akan tetapi kadang pula menjadi ragu dan berkurang. Hal ini nampak pada cara ibadahnya yang kadang rajin dan kadang-kadang malas. Perasaannya kepada tergantung pada perubahan emosi yang sedang dialaminya.
Dalam kondisi yang demikian hendaknya guru agama memahami keadaan anak yang sedang mengalami kegoncangan perasaan akibat pertumbuhan yang berjalan sangat cepat itu dan semua keinginan, dorongan dan ketidak stabilan kepercayaan itu. Dengan pengertian itu, guru agama dapat memilihkan penyajian agama yang tepat bagi mereka, kegoncangna perasaan dapat diatasi.
Masa Remaja Akhir (17 – 21 tahun)
Disamping perkembangan, pertumbuhan dan kecerdasan semakin berkembang, berbagai ilmu pengetahuan yang bermacam-macam juga diterima oleh anak usia remaja sesuai dengna keahlian dibidang masing-masing telah memenuhi otak remaja. Di samping itu semua remaja sedang berusaha untuk mencapai peningkatan dan kesempurnaan pribadinya, maka mereka juga imgim mengembangkan agama, mengikuti perkembangan dan alun jiwanya yang sedang tumbuh pesat saat itu. Cara menerima dan menanggapi pendidikan agama jauh berbeda dengna masa sebelumnya, mereka ingin agar agama menyelesaikan kegoncangan dan kepincangan-kepincangan yang terjadi di masyarakat.
Banyak faktor lain yang menyebabkan kegoncangan jiwa remaja, oleh karenya sebagai seorang pendidik kita harus dapat memahaminya, agara dapat menyelami jiwa remaja tersebut, lalu membawa mereka kepada ajaran agama, sehingga ajaran agama yang mereka dapat betul-betul dapat meredakan kogoncangan jiwa mereka.[3]
1.2  SIKAP REMAJA TERHADAP AGAMA
Setelah mengetahui faktor-faktor dan unsur-unsur yang memepengaruhi sikap remaja terhadap agama, maka dapatlah kita bagi sikap remaja tersebut sebagai berikut :[4]
a.       Percaya turut-turutan
b.      Percaya dengan kesadaran
c.       Percaya, tapi agak ragu-ragu (bimbang)
d.      Tidak percaya sama sekali atau cenderung kepada atheis
a.       Peracaya turut-turutan
Sesungguhnya kebanyakan remaja percaya kepada tuhan dan menjalankan ajaran agama, karena mereka terdidik dalam lingkungan yang beragama, karena bapak ibunya orang beragama, teman dan masyarakat disekelilingnya rajin beribadah, maka mereka ikut percaya dan melaksanakan ibadah dan ajaran-ajaran agama, sekedar mengikuti suasana lingkungan di mana ia hidup. Percaya yang seperti inilah yang dinamakan percaya turut-turutan. Mereka seolah olah apatis, tidak ada perhatian untuk meningkatkan agama, dan tidak mau aktif dalam kegiatan kegiatan agama.
Kenyataan seperti ini, dapat kita lihat lihat dimana-mana sehingga banyak sekali remaja yang beragama hanya karena orang tuanya beragama. Cara beragama seperti ini merupakan lanjutan dari cara beragama dimasa kanak-kanak seolah tidaak terjadi perubahan apa-apa dalam pikiran mereka terhadap agama.
Kepercayaan ini biasanya terjadi apabila orang tua memberikan didikan agama
dengna cara menyenangkan jauh dari pengalaman pahit di waktu kecil, dan setelah menjadi remaja tidak mengalami pula peristiwa atau hal-hal yang menggoncangkan jiwanya, sehingga cara kekanak-kanakan dalam beragama terus berjalan, tidak perlu ditinjaunya kembali. Akan tetapi apabila dalam usia remaja, menghadi peristiwa yang mendorongnya untuk meneliti kembali peristiwa waktu kecilnya maka ketika itu kesadarannya kaan timbul dan sehingga ia menjadi bersemangat sekali, ragu-ragu atau anti agama.
Percaya turut-turutan seperti ini biasanya tidak lama, dan bnyak terjadi hanya pada masa-masa remaja pertama (13-16 tahun). Sesudah itu biasanya berkembang kepada cara yang lebih kritis dan lebih sadar.
b.      Percaya dengan kesadaran
Setelah kegoncangan remaja pertama agak reda, yaitu usia sekitar 16 tahun, dimana pertumbuhan jasmani hampir selesai,kecerdasan juga sudah dapat berfikir lebih matang dan pengetahuan bertambah. Kesadaran dan semangat agama pada masa remaja itu mulai dengna cenderungnya remaja dari meninjau dan meneliti kembali caranya beragama dimasa kecil dulu.
Biasanya semangat agama itu tidak terjadi sebelum usia 17 atau 18 tahun, dan semangat agama ini memiliki dua bentuk, yaitu semngat positif dan khurafi.
c.       Kebimbangan beragama
Kebimbangan remaja terhadap agama itu berbeda antara individu satu dengna individu lainnya sesuai dengna kepribadian masing-masing. Ada yang mengalami kebimbangan ringan yang dengan cepat dapat diatasi dan ada yang sangat berat sampai pada berubah agama. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Dr. Al-Malighy terbukti bahwa sebelum usia 17 tahun kebimbangan beragama tidak terjadi. Puncak kebimbangan itu terjadi antara 17 – 20 tahun.
Sesungguhnya kebimbangan beragama itu bersangkut paut dengan semangat agama. Kebimbangan beragama menimbulkan rasa dosa pada remaja. Biasanya setelah keraguan itu selesai timbullah semangat agama yang berlebihan baik dalam beribadah maupun dalam mempelajari bermacam-macam ilmu pengetahuan yang dapat memperkuat keyakinannya.
d.      Tidak percaya Tuhan (atheis)
Salah satu perkembangan yang mungkin terjadi pada akhir masa remaja adalah mengingkari wujud tuhan dan menggatinya dengan keyakinan lain. Atau mungkin pula hanya tidak mempercyai adanya Tuhan secara mutlak.
Ketidak percayaan yang sungguh-sungguh itu, tidak terjadi sebelum usia 20 tahun. Mungkin sekali seorang remaja mengalami bahwa ia tidak percaya kepada Tuhan mengaku bahwa dirinya atheis. Namun jika dianalisis akan diketahui bahwa dibalik keingkaran yang sungguh-sungguh itu tersembunyi kepercayaan kepada tuhan.
1.3  KENAKALAN PADA REMAJA
Secara psikologis maupun sosiologis, remaja umumnya memang rentan terhadap pengaruh pengaruh eksternal. Karena proses pencarian jati diri yang belum kunjung berakhir, mereka mudah sekali terombang ambing dan masih merasa sulit menentukan tokoh panutannya. Mereka juga mudah terpengaruh oleh gaya hidup masyarakat sekitarnya.
Diberbagai komunitas dan di kota besar metropolitan, jangan heran jika hura hura, seks bebas, menhhisap ganja dan zat adiktif lainnya cenderung mudah menggoda para remaja. Siapakah yang harus dipersalahkan tatkala kita menjumpai remaja yang terperosok pada perilaku yang menyimpang dan melanggar hukum atau paling tidak melanggar tata tertib yang berlaku di masyarakat ? dalam hal ini, sejumlah pandangan dan teori yang dapat digunakan untuk memahami kehidupan kenakalan remaja.[5]
1.      Toeri differential association
Teori dikembangkan oleh E. Sithedad yang didasarkan pada arti penting proses belajar. Menurutnya perilaku menympang yang dilakukan remaja sesungguhnya merupakan sesuatu yang dapat dipelajari. Asumsi yang melandasinya adalah  a criminal act accurs when situasion appropriate for it, as defined by the person, is present (rose gialombardo; 1972).
2.      Teori anomie
Teori ini dikemukakan oleh Robert K. Merton dan berorientasi pada kelas. Konsep anomie sendiri diperkenalkan oleh seorang sosiolog perancis yaitu emile durkheim (1983), yang mendefinisikan sebagai keadaan tanpa normal di dalam masyarakat. Dan keadaan tersebut menimbulakan perilaku deviasi. Oleh marton konsep ini selanjutnya diformulasikan untuk menjelaskan keterkaitan antara kelas sosial dengan kecenderungan adaptasi sikap dan perilaku kelompok.
3.      Teori Albert K. Cohen
Fokus teori ini terarah pada sutu pemahaman bahwa perilaku delinkuaen banyak terjadi di kalangan laki-laki kelas bawah yang kemudian membentuk geng. Perilaku delinkuen merupakan cermin ketidak puasan terhadap norma dan nilai kelompok kelas menengah yang cenderung mendominasi. Karena kondisi sosial ekonomi yang ada dipandang sebagai kendala dalam upaya mereka untuk mencapai tujuan sesuai dengan  keinginan mereka sehingga menyebabkan kelompok usia muda kelas bawah ini mengalami status frustrasion. Menurut cohen para remaja umumnyamencari status. Tetapi tidak semua remaja dapat melakukannya karena adanya perbedaan struktur sosial.
4.      Teori Perbedaan Kesempatan dari Cloward dan Ohlin
Menurut mereka terdapat lebih dari satu cara bagi remaja untuk mencapai aspirasinya. Pada masyarakat irban yang merupakan wilayah kelas bawah terdapat berbagai kesempatan yang sah, yang dapat menimbulkan berbagai kesempatan. Denga demikian kedudukan dalam masyarakat menentukan kemampuan untuk beraspirasi dalam mencapai sukses baik melalui kesempatan maupun kesempatan kriminal.
5.      Teori Netralisasi yang dikembangkan oleh Matza dan Sykes
Menurut teori ini orang yang nelakukan perilaku menympang disebabkan adanya kecenderungan untuk merasionalkan norma-norma dan nilai-nilai menurut persepsi dan kepentingan mereka sendiri. Penyimpangan yang dilakukan dengan cara mengikuti arus pelaku lainnya melalui sebuah proses pembenaran (netralisasi).
6.      Teori Kontrol
Teori ini beranggapan bahwa individu dalam masyarakat mempunyai kecenderungan yang sama kemungkinannya yakni tidak melakukan penyimpangan perilaku (baik) dan berperilaku menyimpang (tidak baik). Baik tidaknya perilaku individu sangat bergantung pada kondisi masyarakatnya. Artinya perilaku baik dan tidak baik diciptakan oleh masyarakat sendiri (Hagan, 1987).
1.4  PEMBINAAN AGAMA PADA REMAJA
Semua perubahan jasmani yang begitu cepat pada remaja menimbulkan kecemasan pada dirinya sehingga menyebabakan terjadinya kegoncangan emosi, kecemasan dan kekhawatiran. Bahkan kepercayaan kepada agama yang telah bertumbuh pada usia sebelumnya, mungkin pula mengalami kegoncangan, karena ia kecewa terhadap dirinya. Maka kepercayaan remaja kepada tuhan kadang-kadang sangat kuat, akan tetapi kadang-kadang menjadi ragu dan berkurang, yang terlihat pada cara ibadahnya yang kadang-kadang rajin kadang-kadang malas, perasaan kepada tuhan tergantung pada perubahan emosi yang sedang dialaminya, kadang-kadang ia merasa sangat membutuhkan tuhan, terutama ketika mereka menghadapi bahaya, takut akan gagal atau merasa dosa. Tetapi ia kadang-kadang tidak membutuhkan tuhan, ketika mereka mereka sedang senang, riang dan gembira.
Peran seorang guru agama hendaknya memiliki metode yang cocok dalam melaksanakan pendidikan agama. Pendidikan agama dapat dilaksanakan dengan berhasil dan berguna apabila guru agama mengetahui perkembangan jiwa yang dilalui oleh anak remaja, pertumbuhan anak dari lahir sampai pada masa remaja akhir melalui berbagai tahap dan masing-masing mempunyai ciri dan keistimewaan sendiri-sendiri. Setiap tahap merupakan lanjutan dari tahap sebelumnya, dan akan dilanjutkan apada tahap berikutnya, yang akhirnya mencapai kematangan. Pendidikan agama harus memperhatikan ciri dari masing-masing tahap itu dan dapat mengisi serta mengembangkan kepribadian masing-masing peserta didik.

No comments:

Post a Comment