Thursday, February 12, 2015

PENGEMBANGAN KERCERDASAN MAJEMUK




BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar belakang
Kecerdasan merupakn kemampuan tertinggi yang dimiliki oleh manusia. Tingkat kecerdasan membantu seseorang dalam menghadapi berbagai permasalahan yang nuncul dalamn kehidupan. Kecerdasan sudah dimiliki sejak manusia lahir dan terus menerus dapat dikembangkan hingga dewasa. Pengembangan kecerdasan akan lebih baik jika dilakukan sedini mungkin sejak anak dilahirkan melalui pemberian stimulasi pada kelima panca indranya. Kecerdasan merupakn ungkapan dari cara berpikir seseorang yang dapat dijadikan modalitas dalam belajar. Kecerdasan bagi orang yang memiliki manfaat yang besar selain bagi dirinya sendiri dan bagi pergaulannya di masyarakat. Melalui tingkat kecerdasan yang tinggi seseorang akan semakin dihargai di masyarakat apalagi apabila ia mampu berpkiprah dalam menciptakan hal-hal baru yang bersifat fenomental. Anak manusia sesuai dengan kodratnya sebagai makhluk ciptaan tuhan telah dikaruniai sejumlah kemampuan yang melebihi kemampuan ciptaan tuhan lainnya yang ada dimuka bumi ini. Kelebihan manusia dibandingkan makhluk lainnya adalah karena manusia mempunyai akal dan pikiran yang merupakan satu kesatuan hasil kerja otak. Melalui akal pikirannya inilah manusia menyesuikan diri dengan lingkungannya untuk dapat mempertahankan diri dan melanjutkan keturunannya, selanjutnya ciri yang paling dominan adalah manusia mampu mengembangkan dirinya seoptimal mungkin melalui proses eksplorasi dan belajar dari lingkungannya.

1.2  Rumusan masalah
1.      Hakiakat kecerdasan majemuk.
2.      Teori perkembangan otak.
3.      Paradigma kecerdasan jamak dalam penddidikan.
4.      Apakah aspek kecerdasan jamak.

1.3  Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian kecerdasan jamak.
2.      Untuk mengetahui teori-teori perkembangan otak.
3.      Untuk mengetahui paradigma kecerdasan jamak dalam pendidikan.
4.      Untuk mengetahui aspek-aspek kecerdasan jamak.
BAB II
PEMBAHASAN
1.1    Pengertian Kecerdasan Jamak
Kecerdasan merupakn kemampuan tertinggi yang dimiliki oleh manusia. Tingkat kecerdasan membantu seseorang dalam menghadapi berbagai permasalahan yang nuncul dalamn kehidupan. Kecerdasan sudah dimiliki sejak manusia lahir dan terus menerus dapat dikembangkan hingga dewasa. Pengembangan kecerdasan akan lebih baik jika dilakukan sedini mungkin sejak anak dilahirkan melalui pemberian stimulasi pada kelima panca indranya.
Kecerdasan merupakn ungkapan dari cara berpikir seseorang yang dapat dijadikan modalitas dalam belajar. Kecerdasan bagi orang yang memiliki manfaat yang besar selain bagi dirinya sendiri dan bagi pergaulannya di masyarakat. Melalui tingkat kecerdasan yang tinggi seseorang akan semakin dihargai di masyarakat apalagi apabila ia mampu berpkiprah dalam menciptakan hal-hal baru yang bersifat fenomental.
Gardner seorang profesor bidang pendidikan di Harvard University,  tidak memandang kecerdasan  manusia berdasarkan skor semata dan bukan sesuatu yang dapat dilihat atau dihitung, melainkan dengan ukuran  kemampuan yang diuraikan sebagai berikut.
(1) kemampuan untuk menyelesaikan masalah; (2) kemampuan untuk menghasilkan persoalan-persoalan baru untuk dipecahkan; (3) kemampuan untuk menciptakan sesuatu atau memberikan pernghargaan untuk budaya seseorang.  
Penelitian Gardner telah meruntuhkan dua asumsi umum tentang kecerdasan, yaitu kecerdasan manusia bersifat satuan dan bahwa setiap individu dapat dijelaskan sebagai makhluk yang memiliki kecerdasan yang dapat diukur dan tunggal ( Campbel, Campbel, dan Dickinson, 2002:3). Dalam studinya tentang kecerdasan manusia ditemukan bahwa pada hakikatnya:
(1)               Setiap manusia memiliki delapan (kemudian ditambahkan dua menjadi sepuluh walaupun masih bersifat hipotesis) spektrum kecerdasan yang berbeda-beda dan menggunakannya dengan cara-cara yang sangat individual;
(2)               Setiap orang dapat mengembangkan kesemua kecerdasan sampai mencapai suatu tingkat yang memadai; serta
(3)               Setiap kecerdasan bekerja sama satu sama lain secara kompleks karena dalam tiap kecerdasan ada berbagaia cara untuk menumbuhkan salah satu aspeknya (
Kecerdasan jamak (multiple intellegence) adalah sebuah penilaian yang melihat secara deskriptif bagaimana individu menggunakan kecerdasannya untuk memecahkan masalah dan menghasilkan sesuatu (Gardner, 1999:27-46 ). Pendekatan ini merupakn alat untuk melihat bagaimana pikiran manusia mengoprasiakan dunia, baik itu benda-benda yang konkret maupun hal-hal yang abstrak. Bagi Gardner tidak ada anak yang bodoh atau pinter yang ada anak yang menonjol dalam salah satu atau beberapa jenis kecerdasan  
Berdasarkan pendapat tersebut, hendaknya orang tua dan guru selayaknya harus jeli dan cermat dalam menilai dan menstimulasi kecerdasan anak dalam sebuah rancangan proses pembelajaran bagi anak usia dini. Jadi, dasar pemikiran pengembangan kecerdasan dalam pembelajaran adalah: bukan berapa cerdasnya seseorang, tetapi dalam hal apa dan bagaimana seseorang menjadi cerdas.
1.2              Teori Perkembangan Otak
Anak manusia sesuai dengan kodratnya sebagai makhluk ciptaan tuhan telah dikaruniai sejumlah kemampuan yang melebihi kemampuan ciptaan tuhan lainnya yang ada dimuka bumi ini. Kelebihan manusia dibandingkan makhluk lainnya adalah karena manusia mempunyai akal dan pikiran yang merupakan satu kesatuan hasil kerja otak. Melalui akal pikirannya inilah manusia menyesuikan diri dengan lingkungannya untuk dapat mempertahankan diri dan melanjutkan keturunannya, selanjutnya ciri yang paling dominan adalah manusia mampu mengembangkan dirinya seoptimal mungkin melalui proses eksplorasi dan belajar dari lingkungannya.
Masa usia dini merupakan awal perkembangan setelah anak dilahirkan ke dunia ini. Banyak pakar perkembangan menyakini bahwa masa ini merupakan masa keemasan untuk melakukan stimulkasi fungsi otak melalui berbagai aktivitas yang dapat menstimulasi organ pengindraan berupa kemampuan visual, auditori, dan motorik.
Mengutip pendapat clark dalam semiawan (2002:13), ketika dilahirkan otak seorang anak manusia telah membawa potensi yang terdapat di dalam 100-200 milyar sel neuron yang tersimpan diotaknya. Setiap sel neuron tersebut ditumbuhkembangkan untuk mermperoses beberapa triliyun informasi. Selama masa perkembangannya otak terus mengalami perubahan-perubahan sesuai dengan stimulasi yang diterima melalui seluruh panca indra, hal ini pulalah yang akan mempengaruhi tingkat kecerdasan, kepribadian, dan kualitas hidup seorang anak. Selanjutnya Adree dalam Jalal (2005:34) menyatakan bahwa pada hakikatnya otaklah yang menentukan perilaku, otak yang menetrukan kepribadian, dan otak yang menyimpan ingatan pengalaman. Dengan perkataan lain otak dan sistem saraf merupakan suatu perangkat yanag memproduksi dan mengatur seluruh kegiatan tubuh.
Berkat kemampuan otaknya, manusia dapat menjalanankan fungsi fisik dan psikososialnya dan dapat lebih meningkatkan kemampuan tersebut melalui kegiatan belajar Yang merupakan interaksi dengan lingkungannya baik sengaja atau pun tidak sengaja. Otak terbagi menjadi dua bagian, yaitu belahan otak kiri dan kanan. Masing-masing belahan otak mempunyai fungsi yang berbeda, belahan otak kiri mempunyai fungsi yang bersifat logis, analitis, bertahap, berpikir, konvergen, mengarah pada satu jawaban ya/tidak atau benar/salah, serta rasional; sedangkan belahan otak kanan mempunyai fungsi intuitif, bolistic, gestalt, nonlinier, berfikir divergen, mengarah ppada jawaban yang menyebar/toleran terhadap kedwiartian, dan irrasional (semiawan, 2002:21-22).
Menurut Dennison dan Dennison (2004:1-2) setiap belahan otak terdiri dari lobus depan yang yang berfungsi untuk berfikir, lobus samping berfungsi untuk mendengar dan Setiap individu memiliki cara yang berbeda untuk mengembangkan berbagai kecerdasan yang ada dalam dirinya. Untuk itulah dalam proses pendidikan dan pembelajaran khususnya setiap anak harus mendapat perlakuan yang berbeda sesuai dengan potensi kecerdasannya masing-masing. Untuk hal ini dikenal adanya istilah “the right man on the right place“. Artinya, seorang anak akan dapat belajar bidang pengembangan apapun apabila ia diberi kesempatan untuk mempelajarinya sesuai dengan kecerdasan yang dimilikinya. Sangat mungkin seorang anak belajar matematika melalui kecerdasan linguistiknya. Caranya adalah dengan menerjemahkan soal-soal matematika tersebut menjadi kalimat-kalimat dalam soal cerita dan bukan sekedar angka-angka dalam logika matematika. fungsi bahasa, lobuas atas berfunhgsi untuk Pusat rasa dan gerak, serta lobus belakang berfungsi untuk penglihatan. Selanjutnya dijelaskan bahwa pusat-pusat otak akan terangsang melalui indra yng mengalirkan aliran listrik kepusat-pusat otak melalui serabut-serabut sarafnya. Dalam kehidupan, otak merupakan organ yang memilki fungsi vital, yaitu mengatur fungsi organ-organ tuybuh lainya (high brain function) yang berfungsi untuk berfikir, emosi, belajar dan mengerti tentang apa yang dilihat, didengar, dilakukan, serta fungsi sosial (social brain function) berupa respon adequate terhadap lingkungan dan situasi yang berubah-ubah.
Berdasarkan hukum perkembangan otak, diketahui bahwa apabila otak diberi rangsangan melalui stimulasi yang masuk melalui panca indra maka otak itu akan terus bekerja dan sebaliknya apabila otak tidak dirangsang  maka akan dimusnahkan. Berkaitan dengan hal tesebut stimulasi otak pada anaak usia dini mengacu pada proses kerja ota, yaitu mengindra segala sesuatu yang ada dilingkungan melalui seluruh alat-alat indra kemudian melalui serabut-serabut otak menjadi gelombang listrik dan disimpan dallam otak menjadi memri atau ingatan yamng kamudian dapat memunculkan kembali persis seperti aslinya.
Semiawan (2002:49) berpendapat selama lima tahun pertama kehidupan seorang anak otak berkembng dengan pesat, terlebih lagi pada usia 2-5 tahun yang seringkali diistilahkan dengan masa kritis pertama. Keberfungsian otak anak merupakan  hasil interaksi antara pola cetak biru (blue print) yang bersifat ginetik dengan lingkungan. Sehubungan dengan potensi kecerdasan yang dibawa anak sejak lahir tindaklah akan berarti apa-apa apabila lingkungan tidak memberikan stimulus. Bahkan di dalam perkembangaannya, otak yang selalu diberi stimulus akan semakin memperbanyak dan memperkuat jaringan sel neuronnya dan sebaliknya apabila tidak mendapatkan stimulus maka pertumbuhan otak akan berhenti sama sekali.
Berhubungan dengan pengembangan programkegiatan bermain, kajian tentang otak yang dipentingkan adalah tentang ketetampilan otak yang berhubungan dengan cara berpikir dan peranan otak dalam peristiwa belajar. Berpikir adalah kegiatan otak yang menghubungtkan antara informasi yang tetrsimpan (ingatan), antara ingfatan dan informasi yang baru atau antara informasi baru yang diterima. Kegiatan ini terdiri atas mengaitkan, mengatur, menguraikan, menggabungkan, menilai,mengkaji, mengukur, menghitung, mengabstraksi, merencana, mengoreksi, mmembuat keputusan, dan menyimpulkan. Pada masa usia dini ingatan pertama yang berkembang adalah ingatan mengenali (recognizing memori), mengenali sesuatu yang pernah diindranya. Selanjutnya ingtatan jangka panjang (longterm memory) yang dapat dikeluarkan, ditukil atau dacak (retrive and recall) berkembang secara perlahan. Mula-mula hanya berlangsung sebentar, perlahan-lahan menjadi ingatan jangka panjang yang dapak diacak sewaktu-waktu bila diperlukan (Jalal, 2005:18-19).
Peristiwa belajar merupakn proses perubahan tingkah laku yang yterjadi sepanjang waktu sebagai hasil dari pengalaman. Dengan perkataan lain belajar adalah kegiatan untuk mendapatkan kemampuan dan pengetahuan yang pada mulanya didapat oleh setiap anak melalui panca indra. Belajar dimungkinkan karena otak dapat menyimpan pengalaman dalam ingatan jangka panjang. Belajar dilakukan dengan mengindra, meniru, melakukan, menyesuiakan diri terhadap lingkungan, dan mengubah lingkungan. Beljar merupakn proses yang selayaknya dilakukan sedini mungkin bahkan semenjak janin masih dalam kandungan.
Nash dalam Madeleine (1994:4) menyatakan bawa belajar juga berkaitan erat dengan kecerdasan; berdasarkan hasil penelitian dikatakn bahwa untuk memaksimalkan tingkat kecerdasan perlu dilakukan rangsangan-rangsangansejak pertama masa kehidupannya. Dennison dan Dennison (2004:3) yang terkenal dengan temuannya tentang brain gyms, mengemukakan tiga hal yang diberikaitan dengan belajar, yaitu (1) kegitan belajar adalah kegitan yang alami dan menyenangkan yang terus terjadi sepang hidup, (2) kesulitan belajar adalah ketidakmampuan mengatasi stress dan keraguan dalam menghadapi tugas yang baru, (3) semua orang akan mengalami”kesulita belajar” selama manusia belajar untuk tidak bergewrak. Anak yang sehat mengetahui kapan mereka mempunyai masalah dan meminta bantuan dengan menunjukkan perilaku tertentu. Tidak ada anak yang malas, menarik diri, agresif atau pemarah, kecualai mereka yang tidak mendapat cara belajar yang alami. Bila diberi kesempatan untuk bergerak dengan cara mereka sendiri, anak-anak mampu menyelesaikan proses belajarnya, selanjutnya dengan dukungan dan ijin bergerak scara positif di dalam kelas, anak dapat mengembangkan kemampuan intelegensinya yang unik dan lengkap dengan cara alami sehingga mereka tidak akan terlambat lagi melainkan merasa bebas untuk belajar.
berdasarkan paparan diatas, dapat disimpulkan belahan otak dapat distimulasi sesuai dengan fungsi masing-masing belahan, keterkaitan  ini dengan kecerdasan jamak, yaitu belahan otak kiri berhubungan dengan pengembangan kecerdasan linguistik, logika matematika, visual spasial, dan kinestetik; sedangkan belahan otak kanan berhubungan dengan pengembangan kecerdasan interpersonal, intrapersonal, musikal, naturalis, dan spiritual.
Pada dasarnya keberfungsiaan dari kedua belahan otak tersebut tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya, tetapi keduanya dapat saling berkaitan. Artinya paerkembangan belahan otak kanan akan akan mempengaruhi perkembangan belahan otak kiri dan Setiap individu memiliki cara yang berbeda untuk mengembangkan berbagai kecerdasan yang ada dalam dirinya. Untuk itulah dalam proses pendidikan dan pembelajaran khususnya setiap anak harus mendapat perlakuan yang berbeda sesuai dengan potensi kecerdasannya masing-masing. Untuk hal ini dikenal adanya istilah “the right man on the right place“. Artinya, seorang anak akan dapat belajar bidang pengembangan apapun apabila ia diberi kesempatan untuk mempelajarinya sesuai dengan kecerdasan yang dimilikinya. Sangat mungkin seorang anak belajar matematika melalui kecerdasan linguistiknya. Caranya adalah dengan menerjemahkan soal-soal matematika tersebut menjadi kalimat-kalimat dalam soal cerita dan bukan sekedar angka-angka dalam logika matematika. sebaliknya. Pengembangan program kegiatan bermain bagi anak usia dini haruslah dengan mengembangkan kedua belahan otak manusia melalui pengembangan secara konkret kecerdasan jamak melalui berbagai kegiatan bermain
Pada masa perkembangannya, otak haruslah mendapat perangsangan dan pemprograman yang baik dan seimbang. Pemograman yang tidak tepat bahkan salah pada masa usia dini dapat berakibat buruk pada perilaku dimasa dewasa. Artinya pengalaman anak di waktu kecil berpengaruh besar dan berdampak bagi perkembangan selanjutnya dalam membentuk dan menetapkan fungsi dari struktur-struktur otak yang bersangkutan

1.3    Paradigma Kecerdasan Jamak dalam Pendidikan
Pandangan terkini menunjukkan bahwa manusia memiliki berbagai kecerdasan yang terdapat dalam dirinya, hanya tidak semua kecerdasan tersebut dapat berkembang sehingga menjadi keunggulan dari dirinya. Semiawan (2002:125-127) menyatakan bahwa adanya perbedaan individu dalam hal kemampuan bawaannya menyebabkan setiap individu memiliki satu atau dua kecerdasan yang dapat diunggulkan dari dalam dirinya. Kecerdasan yang khusus tersebut apabila ditumbuhkembangkan secara optimal akan dapat menjadi keunggulan bagi anak tersebut. Sebagai contoh, seorang anak yang memiliki keberbakatan dalam bidang musik akan dapat menunjukkan prestasi yang menonjol dalam bidang tersebut apabila anak diberikan kesempatan untuk mempelajarinya dengan sungguh-sungguh.
Setiap individu memiliki cara yang berbeda untuk mengembangkan berbagai kecerdasan yang ada dalam dirinya. Untuk itulah dalam proses pendidikan dan pembelajaran khususnya setiap anak harus mendapat perlakuan yang berbeda sesuai dengan potensi kecerdasannya masing-masing. Untuk hal ini dikenal adanya istilah “the right man on the right place“. Artinya, seorang anak akan dapat belajar bidang pengembangan apapun apabila ia diberi kesempatan untuk mempelajarinya sesuai dengan kecerdasan yang dimilikinya. Sangat mungkin seorang anak belajar matematika melalui kecerdasan linguistiknya. Caranya adalah dengan menerjemahkan soal-soal matematika tersebut menjadi kalimat-kalimat dalam soal cerita dan bukan sekedar angka-angka dalam logika matematika.
Dalam perkembangannya konsep kecerdasan jamak telah memberikan implikasi yang signifikan terhadap perkembangan dunia pendidikan. Seiring dengan keyakinan Gardner bahwa semua manusia memiliki bukan hanya satu kecerdasan dalam hal ini intelegensi saja melainkan secara relatif memiliki otonomi berupa seperangkat kecerdasan maka cara guru membelajarkan anakpun harus memperhatikan keunggulan pada dimensi dari kecerdasan yang dimiliki oleh anak. Apabila guru dapat memberikan kesempatan yang berbeda sesuai dengan dimensi kecerdasan yang dimiliki oleh anak maka besar kemungkinan keberhasilan anak dalam menuntaskan  indikator  yang  merupakan  hasil  belajar  yang  diharapkan  dapat  dikuasainya. Selain itu, dengan memperhatikan dimensi kecerdasan yang diunggulkan dari dalam diri setiap anak, berdampak pada strategi pembelajaran yang digunakan oleh guru.
Dryden dan Vos (1999-347) mengatakan bahwa sebenarnya dalam beberapa hal orang tua ataupun guru mengetahui secara naluriah bahwa anak- anak belajar dengan cara-cara dan gaya yang berbeda. Hal ini dapat diketahui dari ketertarikan satu anak dengan anak lainnya terhadap suatu aktivitas, ada anak yang menunjukkan keantusiasan yang tinggi tetapi ada pula yang terlihat seperti tidak memiliki gairah untuk melakukannya.
Sabri (1996:36) mengatakan bahwa tujuan penting dalam mengetahui berbagai aspek yang terdapat dalam kecerdasan jamak adalah diharapkan para pendidik dapat memperlakukan anak sesuai dengan cara-cara dan gaya belajarnya masing-masing. Sebagai pendidik yang berpengalaman seringkali ditemui berbagai kekecewaan dalam menghadapi berbagai macam anak sehingga muncul rasa frustrasi dalam menghadapi mereka. Hal ini wajar, rasa cemas akan ketidak berhasilan anak melakukan suatu pelajaran atau pekerjaan akan berdampak terhadap harga diri anak tersebut.
Samples (1999:75) berpendapat bahwa pemahaman mendalam terhadap kecerdasan individual masing-masing anak dan gaya belajar mereka akan membantu para pendidik dalam menghadapi anak terutama dalam mengajari anak-anak dengan cara yang paling sesuai dengannya  atau  dengan  cara  yang  paling  mudah  untuk  mereka  dapat  menguasai  suatu pelajaran atau pekerjaan, menangkap informasi atau konsep atau berbagai keterampilan secara lebih cepat.
Gaya belajar adalah cara-cara orang belajar, menyerap dan mengolah informasi untuk mencapai   keberhasilan   dalam   belajar.   Gaya   belajar   inilah   yang   akan   menjadi   kunci keberhasilan dalam menyerap dan mengolah informasi yang pada akhirnya akan menentukan kinerja seseorang baik didunia persekolahan, dunia kerja atau dalam hubungan antarpribadi (Samples, 1999:75).
Rita Dunn dalam DePotter (2002:109-118) seorang pelopor dibidang gaya belajar telah menemukan banyak variabel yang mempengaruhi cara belajar seseorang, di antaranya dipengaruhi oleh faktor fisik, emosional, sosiologi, dan lingkungan. Gaya belajar inilah yang dapat  menjadi modalitas  individu  dalam  menyerap  dan  mengolah  informasi. Terdapat  dua kategori utama yang mendasari tentang bagaimana seorang individu belajar, yakni: (1) modalisme, yaitu bagaimana seseorang menyerap informasi dengan mudah; dan (2) dominasi otak, yaitu cara dan bagaimana seseorang mengatur serta mengolah informasi.
Menurut Bandler dan Grinder dalam DePotter (2002:109-118), hampir semua orang cenderung pada salah satu modalitas belajar yang berperan sebagai saringan untuk pembelajaran, pemrosesan dan komunikasi; sedangkan Markova meyakini bahwa orang tidak hanya  cenderung  pada  satu  modalitas,  mereka  juga  memanfaatkan  kombinasi  modalitas tertentu yang memberi mereka bakat dan kekurangan alami tertentu. Modalitas yang dimiliki oleh setiap individu dapat dibagi menjadi 3, yaitu visual, auditorial, dan kinestetikal Berikut ini dipaparkan tentang modalitas yang dimiliki setiap individu.
a.    Visual. Orang dengan modalitas visual belajar melalui apa yang mereka lihat. Modalitas ini mengakses citra visual yang diciptakan maupun diingat. Individu yang memiliki modalitas visual dicirikan dengan suka akan keteraturan, memperhatikan sesuatu secara detil, selalu menjaga penampilan, mengingat dengan gambar atau dari membaca, dan mengingat apa yang dilihat.
b.     Auditorial.  Orang  dengan  modalitas auditorial  belajar  melalui  apa  yang  mereka    dengar. Individu dengan modalitas auditorial biasanya memiliki perhatian yang  mudah terpecah, berbicara dengan pola berirama, belajar dengan mendengarkan, menggerakkan bibir dan bersuara saat membaca, serta senang berdialog secara internal dan eksternal.
c.    Kinestetik. Orang dengan modalitas kinestetikal belajar lewat gerakan dan sentuhan. Individu dengan modalitas kinestetik biasanya senang menyentuh orang  dan berdiri berdekatan, banyak bergerak, belajar dengan melakukan, menunjukkan tulisan saat membaca, serta mengingat sambil berjalan dan melihat.
Berhubungan  dengan  hal  tersebut  di  atas,  Gardner  (Edu  Dev  Center)  menyatakan bahwa ketika seorang anak menunjukkan cara yang unik dalam hal berpikir dan belajar maka mereka tidak boleh hanya diarahkan pada situasi tertentu saja seperti memasukkan mereka ke kelas-kelas yang lebih memfokuskan pada bahasa dan logika matematika saja.
Untuk itu, teori kecerdasan jamak mengusulkan transformasi utama dalam cara belajar di lembaga pendidikan bahwa guru harus dilatih untuk menghadirkan kegiatan belajar dan bermain dengan memvariasikan strategi dan metode yang menggunakan musik, belajar koperatif, adanya aktivitas seni, menerapkan aturan main individu dan kelompok, penggunaan multimedia, selalu melakukan inner reflection, dan banyak lagi yang lainnya  
Tantangan yang dihadapi dalam penerapan kecerdasan jamak di lembaga pendidikan adalah memberikan informasi ini kepada guru dan pihak administrator sekolah lainnya yang bekerja dengan anak tentang hal ini. Apabila lembaga pendidikan mau mendesain ulang cara mendidik anak-anak maka setiap anak tentunya akan memiliki kesempatan untuk belajar dalam cara yang harmonis dengan pemikiran unik mereka. Selain itu, ternyata teori kecerdasan jamak memiliki implikasi yang kuat untuk belajar dan perkembangan orang dewasa. Banyak orang dewasa  menemukan  dirinya  sendiri  dalam  pekerjaan  yang  tidak  dapat  digunakan  secara optimal dari pesatnya perkembangan kecerdasan. Teori kecerdasan jamak telah memberikan orang  dewasa  cara  baru  dalam  kehidupannya,  potensi  yang  mereka  tinggalkan  di  masa kecilnya (seperti kecintaan pada seni dan drama) tetapi sekarang memiliki kesempatan untuk berkembang dengan kursus, hobi program perkembangan diri lainnya.  
Implikasi dari adanya teori kecerdasan jamak dalam pendidikan adalah adanya berbagai materi,  metode,  media/sumber  belajar,  dan  lingkungan  belajar  yang  bervariasi termasuk juga variasi dalam sistem evaluasi yang dilaksanakan dengan melakukan proses asesmen perkembangan. Mengutip pernyataan Jamaris (2006:164) asesmen perkembangan anak usia dini merupakan proses kegiatan yang dilaksanakan dengan tujuan untuk mengumpulkan data atau bukti-bukti tentang perkembangan dan hasil belajar anak usia dini. Hasil kegiatan ini dapat memberikan gambaran tentang apa yang dapat dan yang belum dapat dilakukan anak dalam  lingkup perkembangan yang  sesuai dengan tingkat  usia  anak  yang bersangkutan.

1.4    Aspek Kecerdasan Jamak
Gardner membuat kriteria dasar yang pasti untuk setiap kecerdasan agar dapat membedakan talenta atau bakat secara mudah sehingga dapat mengukur cakupan yang lebih luas potensi manusia, baik anak-anak maupun orang dewasa. Gardner pada mulanya memaparkan 7 (tujuh) aspek intelegensi yang menunjukkan kompetensi intelektual yang berbeda, kemudian menambahkannya menjadi 8 (delapan) aspek kecerdasan, yang terdiri dari kecerdasan linguistik (Word Smart), kecerdasan logika matematika (Number/ reasoning Smart), kecerdasan fisik/kinestetik (Body Smart), kecerdasan spasial (Picture Smart), kecerdasan musikal (Musical Smart), kecerdasan intrapersonal (Self Smart), kecerdasan interpersonal (People Smart), dan kecerdasan naturalis (Natural Smart) tetapi dalam paparan ini ditambahkan menjadi 9 (sembilan), yaitu kecerdasan spiritual.
Kesembilan kecerdasan tersebut di atas dapat saja dimiliki individu, hanya saja dalam taraf yang berbeda. Selain itu, kecerdasan ini juga tidak berdiri sendiri, terkadang bercampur dengan kecerdasan yang lain. Atau dengan perkataan lain dalam keberfungsiannya satu kecerdasan dapat menjadi medium untuk kecerdasan lainnya. Sebagai contoh untuk menyelesaikan konsep penjumlahan dalam matematika, seorang anak tidak hanya menggunakan kecerdasan logika matematika yang harus berhadapan deretan angka-angka, tetapi lebih mudah baginya ketika ia menyelesaikan soal tersebut dengan kecerdasan linguistiknya di mana soal tersebut diberikan dalam bentuk cerita yang lebih mudah untuk dimengerti olehnya.
Selanjutnya Jasmine (tanpa tahun:34) menjelaskan bahwa pembelajaran dengan kecerdasan jamak sangatlah penting untuk mengutamakan perbedaan individual pada anak didik. Implikasinya teori dalam proses pendidikan dan pembelajaran adalah bahwa pengajar  perlu memperhatikan modalitas kecerdasan dengan cara menggunakan berbagai strategi dan pendekatan sehingga anak akan dapat belajar sesuai dengan gaya belajarnya masing-masing.
Terdapat berbagai model pembelajaran yang dapat dipilih sehingga sesuai dengan cara dan gaya belajar anak. Hal ini merupakan kekuatan agar anak dapat belajar sesuai dengan kebutuhan dan yang lebih penting adalah rasa senang dan nyaman dalam belajar dan dapat berkembang secara optimal sesuai dengan kemampuan dan kebutuhannya yang berbeda-beda tersebut (Stefanakis, 2002:2).
Untuk lebih memahami tentang kecerdasan jamak yang dapat dikembangkan pada diri setiap anak didik maka berikut ini diuraikan berbagai hal yang berhubungan dengan sembilan kecerdasan tersebut. Adapun urutan penyajian tidak menunjukkan bahwa  satu kecerdasan lebih unggul dari kecerdasan yang lain.
4.1 Kecerdasan Linguistik
Amstrong (2002:2) berpendapat bahwa kecerdasan linguistik adalah kecerdasan dalam mengolah kata atau kemampuan menggunakan kata secara efektif baik secara lisan maupun tertulis. Orang yang cerdas dalam bidang ini dapat berargumentasi, menyakinkan orang, menghibur atau mengajar dengan efektif lewat kata-kata yang diucapkannya. Kecerdasan ini memiliki empat keterampilan, yaitu menyimak, membaca, menulis, dan berbicara.
Campbell, Campbell, dan Dickinson (2002:13-29) menjelaskan bahwa tujuan pengembangan kecerdasan linguistik adalah: (1) agar anak mampu berkomunikasi baik lisan maupun tulisan dengan baik, (2) memiliki kemampuan bahasa untuk menyakinkan orang lain, (3) mampu mengingat dan menghafal informasi, (4) mampu memberikan penjelasan, serta (5) mampu untuk membahas bahasa itu sendiri.
Sujiono dan Sujiono (2004:285-288) menguraikan bahwa materi program dalam kurikulum yang dapat mengembangkan kecerdasan linguistic, antara lain abjad, bunyi, ejaan, membaca, menulis, menyimak, berbicara atau berdiskusi dan menyampaikan laporan secara lisan, serta bermain games atau mengisi teka-teki silang.
Kiat untuk mengembangkan kecerdasan linguistik pada anak sejak usia dini, antara lain dapat dilakukan dengan cara-cara berikut ini.
·     Mengajak anak berbicara sejak bayi, anak memiliki pendengaran yang cukup baik sehingga baik sekali berkomunikasi dan menstimulasi anak dengan mengajaknya berbicara,
·      Membacakan cerita atau mendongeng dapat dilakukan kapan saja bahkan sejak bayi.
    
·     Bermain mengenalkan huruf-huruf abjad dapat dilakukan sejak kecil, seperti bermain huruf- huruf sandpaper (amplas), anak belajar mengenali huruf-huruf dengan cara melihat dan menyentuhnya, di samping mendengarkan setiap huruf yang diucapkan oleh orang tua atau guru. Seiring dengan pemahaman anak akan huruf dan penggunaannya, yaitu dengan bermain kartu bergambar berikut kosa katanya.
·     Merangkai   cerita,   sebelum   dapat   membaca   tulisan,   anak-anak   umumnya   gemar Berdiskusi, berbagai hal di sekitar dapat didiskusikan dengan anak-anak. Bertanya tentang yang ada di lingkungan sekitar, misalnya mungkin anak mempunyai pendapat sendiri tentang binatang peliharaan di rumah. Apapun pendapatnya, harus menghargai isi pembicaraannya.
·     Bermain  peran,  ajaklah  anak  melakukan  suatu  adegan  seperti  yang  pernah  ia  alami, misalnya saat berkunjung ke dokter. Bermain peran ini dapat membantu anak mencobakan berbagai peran sosial yang diamatinya.
·     Memperdengarkan  dan  perkenalkanlah  lagu  anak-anak,  ajaklah  anak  ikut  bernyanyi dengan penyanyi yang mendendangkan lagu dari kaset yang diputar. Kegiatan ini sangat menggembirakan anak, selain mempertajam pendengaran anak, memperdengarkan lagu juga menuntut anak untuk menyimak setiap lirik yang dinyanyikan yang kemudian anak menirukan lagu tersebut dan juga menambah kosa kata dan pemahaman arti kata bagi anak.

4.2 Kecerdasan Logika Matematika

Amstrong (2002:2) berpendapat bahwa kecerdasan logis-matematis adalah kecerdasan dalam hal angka dan logika. Kecerdasan ini melibatkan keterampilan mengolah angka dan atau kemahiran menggunakan logika atau akal sehat.
Campbell,  Campbell,  dan Dickinson (2002:45-58)  menjelaskan  bahwa  tujuan  materi program dalam kurikulum yang dapat mengembangkan kecerdasan logika matematika, antara lain bilangan, beberapa pola, perhitungan, pengukuran, geometri, statistik, peluang, pemecahan masalah, logika, games strategi dan atau petunjuk grafik.
Sujiono dan Sujiono (2004:288-290) menguraikan cara mengembangkan kecerdasan logika matematika pada anak: (1) menyelesaikan puzzle, permainan ular tangga, domino, dan lain-lain. Permainan ini akan membantu anak dalam latihan mengasah kemampuan memecahkan berbagai masalah menggunakan logika; (2) mengenal bentuk geometri, dapat dimulai dengan kegiatan sederhana sejak anak masih bayi, misalnya dengan menggantung berbagai bentuk geometri berbagai warna; (3) mengenalkan bilangan melalui sajak berirama dan lagu; (4) eksplorasi pikiran melalui diskusi dan olah pikir ringan, dengan obrolan ringan, misalnya mengaitkan pola hubungan sebab-akibat atau perbandingan, bermain tebak-tebakan angka, dan sebagainya; (5) pengenalan pola, permainan menyusun pola tertentu dengan menggunakan kancing warna-warni, pengamatan atas berbagai kejadian sehari-hari sehingga anak dapat mencerna dan memahaminya sebagai hubungan sebab akibat; serta (6) memperkaya  pengalaman  berinteraksi  dengan  konsep  matematika,  dapat  dengan  cara mengikutsertakan anak belanja, membantu mengecek barang yang sudah masuk dalam kereta belanjaan,  mencermati berat  ukuran  barang  yang  kita  beli,  memilih  dan  mengelompokkan sayur-mayur maupun buah yang akan dimasak.




4.3 Kecerdasan Visual Spasial
Amstrong (2002:3) berpendapat bahwa visual spasial merupakan kemampuan untuk memvisualisasikan gambar di dalam pikiran seseorang atau untuk anak di mana dia berpikir dalam bentuk visualisasi dan gambar untuk memecahkan sesuatu masalah atau menemukan jawaban. Campbell, Campbell dan Dickinson (2002:112-136) menjelaskan bahwa tujuan materi program dalam kurikulum yang dapat mengembangkan kecerdasan visual spasial, antara lain video, gambar, menggunakan model, dan atau diagram.
Sujiono dan Sujiono (2004:292-295) menguraikan bagaimana cara mengembangkan kecerdasan visual spasial pada anak sebagai berikut.
·      Mencorat-coret, untuk mampu menggambar, anak memulainya dengan tahapan mencoret terlebih dahulu. Mencoret yang biasanya dimulai sejak anak berusia sekitar 18 bulan ini, merupakan sarana anak mengekspresikan diri. Meski apa yang digambarnya atau coretannya  belum  tentu  langsung  terlihat  isi  pikirannya.  Selain  itu,  kegiatan  ini  juga menuntut koordinasi tangan-mata anak.
·     Menggambar dan melukis. Kegiatan menggambar dan melukis dapat dilakukan di mana saja, kapan saja dengan biaya yang relatif murah. Sediakan alat-alat yang  diperlukan seperti kertas, pensil warna, dan rayon. Biarkan anak menggambar atau melukis apa yang ia   inginkan  sesuai  imajinasi   dan  kreativitasnya   karena  menggambar   dan  melukis merupakan ajang bagi anak untuk mengekspresikan diri.
·     Kegiatan   membuat   prakarya   atau   kerajinan   tangan   menuntut   kemampuan   anak memanipulasi bahan. Kreativitas dan imajinasi anak pun terlatih karenanya. Selain itu, kerajinan tangan dapat membangun kepercayaan diri anak.
·     Mengunjungi berbagai tempat, dapat  memperkaya  pengalaman  visual  anak seperti mengajaknya  ke  museum, kebun binatang, menempuh perjalanan alam lainnya.
·     Melakukan  permainan konstruktif  dan kreatif,  sejumlah  permainan  seperti  membangun konstruksi dengan menggunakan balok, mazes, puzzle, permainan rumah-rumahan atau pun peralatan video, film, peta atau gambar, dan slide.
·     Mengatur dan merancang. Kejelian anak untuk mengatur dan merancang, juga dapat di asah dengan mengajaknya dalam kegiatan mengatur ruang di rumah, seperti ikut menata kamar tidurnya Kegiatan seperti ini juga baik untuk meningkatkan kepercayaan diri anak, bahwa ia mampu memutuskan sesuatu.


4.4       Kecerdasan Kinestetik
Amstrong (2002:3) berpendapat bahwa kecerdasan fisik adalah suatu kecerdasan di mana saat menggunakannya seseorang mampu atau terampil menggunakan anggota tubuhnya untuk melakukan gerakan seperti, berlari, menari, membangun sesuatu, melakukan kegiatan seni, dan hasta karya.
Campbell, Campbell dan Dickinson (2002:77-96) menjelaskan bahwa tujuan materi program dalam kurikulum yang dapat mengembangkan kecerdasan fisik antara lain: berbagai aktivitas fisik, berbagai jenis olahraga, modeling, dansa, menari, body languages. Sujiono dan Sujiono (2004:290-292) menguraikan cara menstimulasi kecerdasan fisik pada anak, antara lain sebagai berikut.
·     Menari. Anak-anak pada dasarnya menyukai musik dan tari. Untuk mengasah kecerdasan fisik ini kita dapat mengajaknya untuk menari bersama karena menari menuntut keseimbangan, keselarasan gerak tubuh, kekuatan, dan kelenturan otot,
·     Bermain peran/drama. Melalui kegiatan bermain peran, kecerdasan gerakan tubuh anak juga dapat terangsang. Kegiatan ini menuntut bagaimana anak menggunakan tubuhnya menyesuaikan dengan perannya, bagaimana ia harus berekspresi, termasuk juga gerakan tangan.  Kemampuan sosialisasinya pun berkembang  karena  ia  dituntut  dapat berkerja sama dengan orang lain,
·     Latihan   keterampilan   fisik.   Berbagai   latihan   fisik   dapat   membantu   meningkatkan keterampilan motorik anak, tentunya latihan tersebut disesuaikan dengan usia anak. Misalnya, aktivitas berjalan di atas papan. Aktivitas ini dapat dilakukan saat anak berusia 3–4 tahun. Selain melatih kekuatan otot, aktivitas ini juga membuat belajar keseimbangan,
·     Olahraga, Berbagai  kegiatan   olahraga   dapat   meningkatkan   kesehatan   dan   juga pertumbuhan.  Olahraga  harus  dilakukan  sesuai  dengan  perkembangan  motorik  anak, seperti  berenang,  sepak  bola  mini,  main  tenis,  bulu  tangkis  ataupun  senam.  Seluruh cabang  olahraga  pada  dasarnya  merangsang  kecerdasan  gerakan  tubuh,  mengingat hampir semuanya menggunakan anggota tubuh.  


4.5         Kecerdasan Musikal
Amstrong (2002:3) berpendapat bahwa kecerdasan musikal ialah kemampuan menangani bentuk-bentuk musikal, dengan cara mempersepsi (penikmat musik), membedakan (kritikus musik), mengubah (komposer), dan mengekspresikan (penyanyi). Kecerdasan ini meliputi kepekaan pada irama, pola titi nada pada melodi, dan warna nada atau warna suara suatu lagu.

Campbell, Campbell, dan Dickinson (2002:151-164) menjelaskan bahwa tujuan materi program dalam kurikulum yang dapat mengembangkan kecerdasan musikal antara lain mendengarkan musik, melodi, instrumentalia, dan menyanyi bersama atau sendiri.
Sujiono dan Sujiono (2004:298-300) menguraikan cara mengembangkan kecerdasan musikal pada anak berikut ini.
·     Beri kesempatan pada anak didik untuk melihat kemampuan yang ada pada diri mereka, buat mereka lebih percaya diri. Misalnya, langkah pertama beri pertanyaan siapa yang suka musik? dan selanjutnya siapa yang suka memainkan alat musik dan bernyanyi?” setelah itu kembangkan pemahaman anak tentang music.
·     Buatlah  kegiatan-kegiatan  khusus  yang  dapat  dimasukkan  dan  dikembangkan  dalam kecerdasan musikal, misalnya career daydi mana para musisi profesional menceritakan kecerdasan musiknya”, karya wisata di mana anak diajak ke stasiun radio untuk memutarkan lagu-lagu, biografi dari musisi terkenal, paduan suara, dan lain-lain.
·     Pengalaman  empiris  yang  praktis,  buatlah  penghargaan  terhadap  karya-karya  yang dihasilkan anak. Seperti buat rak pameran seni atau buat pentas seni.
Stimulasi untuk kecerdasan musikal, antara lain dengan: (1) irama, lagu rap, dan senandung, meminta anak menciptakan sendiri lagu-lagu, rap, atau senandung. Dilakukan dengan merangkum,  menggabungkan, atau menerapkan  makna  dari  yang  mereka  pelajari, lengkapi dengan alat musik atau perkusi; (2) diskografi, mencari lagu, lirik, atau potongan lagu dan mendiskusikan pesan yang ingin disampaikan dari lagu tersebut; (3) konsep musikal, nada musik yang digunakan sebagai alat kreatif untuk mengekspresikan konsep, pola, atau skema pelajaran; serta (4) musik suasana, gunakan rekaman musik yang membangun suasana hati yang cocok untuk pelajaran atau unit tertentu.

4.6       Kecerdasan Intrepersonal
Amstrong (2002:4) berpendapat bahwa kecerdasan interpersonal adalah berpikir lewat berkomunikasi  dan  berinteraksi  dengan   orang   lain.   Adapun  kegiatan   yang   mencakup kecerdasan   ini   adalah   memimpin,   mengorganisasi,   berinteraksi,   berbagi,   menyayangi, berbicara, sosialisasi, menjadi pendamai, permainan kelompok, klub, teman-teman, kelompok, dan kerja sama.
Campbell, Campbell, dan Dickinson (2002:183-196) menjelaskan bahwa tujuan materi program dalam kurikulum yang dapat mengembangkan kecerdasan interpersonal antara lain: belajar kelompok, mengerjakan suatu proyek, resolusi konflik, mencapai konsensus, tanggung jawab pada diri sendiri, berteman dalam kehidupan social, dan atau pengenalan jiwa orang lain.
Sujiono dan Sujiono (2004:297-298) menguraikan bahwa cara mengembangkan kecerdasan interpersonal pada anak, yakni (1) mengembangkan dukungan kelompok, (2) menetapkan aturan tingkah laku, (3) memberi kesempatan bertanggung jawab di rumah, (4) bersama-sama menyelesaikan konflik, (5) melakukan kegiatan sosial di lingkungan, (6) menghargai perbedaan pendapat antara si kecil dengan teman sebaya, (7) menumbuhkan sikap ramah dan memahami keragaman budaya lingkungan sosial, dan (8) melatih kesabaran menunggu giliran berbicara serta mendengarkan pembicaraan orang lain terlebih dahulu.

4.7         Kecerdasan Intrapersonal
Amstrong (2002:4) berpendapat bahwa kecerdasan intrapersonal adalah kemampuan seseorang untuk berpikir secara reflektif, yaitu mengacu kepada kesadaran reflektif mengenai perasaan dan proses pemikiran diri sendiri. Adapun kegiatan yang mencakup kecerdasan ini adalah berpikir, meditasi, bermimpi, berdiam diri, mencanangkan tujuan, refleksi, merenung, membuat jurnal, menilai diri, waktu menyendiri, proyek yang dirintis sendiri, dan menulis introspeksi.
Campbell, Campbell, dan Dickinson (2002:204-229) menjelaskan bahwa tujuan materi program dalam kurikulum yang dapat mengembangkan kecerdasan intrapersonal antara lain refleks, perasaan, self analysis, keyakinan diri, mengagumi diri sendiri, organisasi waktu, dan perencanaan untuk masa depan.
Sujiono dan Sujiono (2004:295-297) menguraikan cara mengembangkan kecerdasan intrapersonal pada anak sebagai berikut.
·      Menciptakan citra positif, “aku anak baik”, “sya anak rajin membantu ibu”, dan lain-lain.
·      Pendidik  dapat  memberikan  self  image  citra  diri  yang  baik  pada  anak,  yaitu  dengan menampilkan sikap yang hangat namun tegas sehingga anak tetap dapat memiliki sikap hormat. Selain itu, guru yang juga menghormati dan peduli pada anak didiknya, akan mendapati bahwa ia lebih mudah menawarkan perhatian, penghargaan, dan penerimaan pada muridnya.
·      Ciptakan  situasi  dan  kondisi  yang  kondusif  suasana  di  rumah  dan  sekolah  yang mendukung pengembangan kemampuan intrapersonal dan penghargaan diri anak.
·      Menuangkan isi hati dalam jurnal pribadi, setiap anak tentu memiliki suasana hati yang dialaminya pada suatu saat tertentu. Agar anak terbiasa dan mampu mencurahkan isi hatinya, beri kegiatan semisal mengisi makalah harian. Anak dapat menuangkan isi hatinya dalam bentuk tulisan atau pun gambar.
·      Bercakap-cakap memperbincangkan kelemahan, kelebihan dan minat anak. Pendidik dapat menanyakan pada anak dengan suasana santai, hal-hal apa saja yang ia rasakan sebagai kelebihannya dan dapat ia banggakan, serta kegiatan apa yang saat ini tengah ia minati. Bantu anak untuk menemukan kekurangan dirinya, semisal sikap-sikap negatif yang sebaiknya diperbaiki.
·      Membayangkan diri di masa datang, lakukan perbincangan dengan anak semisal anak ingin seperti apa bila besar nanti, dan apa yang akan dilakukan bila dewasa nanti.
·      Mengajak berimajinasi jadi satu tokoh sebuah cerita, berandai-andai menjadi tokoh cerita yang tengah anak gemari, dapat pula orang tua dan anak lakukan. Biarkan anak berperan menjadi salah satu tokoh cerita yang tengah digemari.
Lalu pertanyaan berikutnya, adalah adakah kecerdasan jamak lainnya. Sejak daftar kecerdasan yang dikemukakan oleh Gardner pada tahun 1983 maka pada penelitian yang berikutnya dan refleksi dari Gardner dan koleganya melihat kemungkinan lainnya, di antaranya kecerdasan naturalis, kecerdasan spiritual dan kecerdasan existential   Untuk itu maka selanjutnya dipaparkan 2 (dua) dari 3 (tiga) kecerdasan tambahan tersebut.

4.8         Kecerdasan Naturalis
Amstrong (2002:4) berpendapat bahwa kecerdasan naturalis, yaitu kecerdasan untuk mencintai keindahan alam melalui pengenalan terhadap flora dan fauna yang terdapat di lingkungan sekitar dan juga mengamati fenomena alam dan kepekaan/kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Campbell, Campbell, dan Dickinson menjelaskan bahwa tujuan materi program dalam kurikulum yang dapat mengembangkan kecerdasan naturalis antara lain: sains permulaan, ilmu botani, gejala-gejala alam, atau hubungan antara benda-benda hidup dan tak hidup yang ada di alam sekitar.
Sujiono dan Sujiono (2004:300-301) menguraikan cara mengembangkan kecerdasan naturalis pada anak, yaitu: (1) beri kesempatan pada anak didik untuk mengetahui kemampuan yang ada pada dirinya; (2) ceritakan kondisi akhirsebagai keteladanan dan inspirasi bagi mereka, misalnya: ahli-ahli binatang, para peneliti alam; (3) buatlah kegiatan-kegiatan khusus yang dapat dimasukan ke dalam kecerdasan naturalis, misal: career daydi mana para dokter hewan dan ahli binatang menceritakan tentang kecerdasan naturalisnya; serta (4) karya wisata ke kebun binatang, pengalaman empiris praktis, misalnya mengamati alam dan makhluk hidup, buat rak pameran simulasi ekosistem, dan buat papan permainan.
Stimulasi bagi pengembangan kecerdasan naturalis: jalan-jalan di alam terbuka, berdiskusi mengenai apa yang terjadi dalam lingkungan sekitar, membawa hewan peliharaan ke kelas lalu anak diberi tugas mencatat perilaku hewan tersebut, kegiatan ekostudi agar anak memiliki sikap peduli pada alam sekitar. Sebagai contoh pada saat anak belajar menghitung, ajaklah anak untuk menghitung spesies hewan yang terancam punah, tentu saja dengan memakai contoh gambar dengan penjelasan yang dapat dimengerti.

4.9         Kecerdasan Spiritual
Zohar dan Marshall (2001:3-4) beranggapan bahwa kecerdasan spiritual dapat diartikan sebagai kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai. Kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup manusia dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain.
Kecerdasan spiritual   adalah kecerdasan dalam memandang makna atau hakikat kehidupan ini sesuai dengan kodrat manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa yang berkewajiban menjalankan perintahnya dan menjauhi semua larangannya.
Berhubungan dengan kecerdasan spiritual bagi anak usia dini, Gutama (2002:40) menuliskan bahwa kecerdasan spiritual adalah ekspresi pemikiran yang muncul dari dalam kalbu seorang. Bagi anak, kesadaran ini akan memacu mereka untuk menemukan dan mengembangkan bakat bawaan, energi, dan hasratnya serta sebagai sumber motivasi yang memiliki kekuatan luar biasa (Gutama, 2002:40).
Selanjutnya Sujiono dan Sujiono (2004:122) menguraikan bahwa materi program yang dapat dikembangkan mengajarkan doa atau puji-pujian kepada Sang Pencipta, membiasakan diri untuk bersikap sesuai ajaran agama seperti memberi salam, belajar mengikuti tata cara ibadah sesuai dengan agama yang dianut, mengembangkan sikap dermawan, membangun sikap toleransi terhadap sesama.
Cara  untuk  mengembangkan  kecerdasan  spiritual  pada  anak  usia  dini,  antara  lain melalui teladan dalam bentuk nyata yang diwujudkan perilaku baik lisan, tulisan maupun perbuatan, melalui cerita atau dongeng untuk menggambarkan perilaku baik-buruk, mengamati berbagai bukti-bukti kebesaran Sang Pencipta seperti beragam binatang dan aneka tumbuhan serta kekayaan alam lainnya, mengenalkan dan mencontohkan kegiatan keagamaan secara nyata, membangun sikap toleransi kepada sesama sebagai makhluk ciptaan Tuhan.
Program stimulasi untuk mengembangkan kecerdasan spiritual pada anak  usia  dini dapat dilakukan melalui program keteladanan dari orang tua atau orang dewasa sehingga anak terbiasa untuk meniru perilaku baik yang dilihat, melalui program pembiasaan agar anak-anak benar-benar dapat mnginternalisasi suatu kegiatan, melalui kegiatan spontan berupa pengawasan terhadap perilaku anak sehari-hari dan melalui pemberian penguatan, dan penghargaan untuk memotivasi anak dalam melakukan berbagai kegiatan keagamaan dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi seorang guru anak usia dini di kelompok bermain pemahaman tentang teori kecerdasan  jamak  itu  penting  tetapi  ada  hal  yang  lebih  penting  lagi  yaitu  bagaimana menerapkan teori tersebut dalam kegiatan belajar sehari-hari.








BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Dapat kita ketahui bawah perkembangan otak yang berhubungan dengan 9 kecerdasan majemuk itu dimana masa usia dini merupakan awal perkembangan setelah anak dilahirkan ke dunia ini. Banyak pakar perkembangan menyakini bahwa masa ini merupakan masa keemasan untuk melakukan stimulkasi fungsi otak melalui berbagai aktivitas yang dapat menstimulasi organ pengindraan berupa kemampuan visual, auditori, dan motorik.
















DAFTAR PUSTAKA
Sujiono, Yuliani Nuraini dan Bambang Sujiono. Bermain Kreatif Berbasis Kecerdasan Majemuk. Jakarta:PT Indeks.2010.

No comments:

Post a Comment