Monday, February 16, 2015

Ekonomi Teknik



I.                  PENDAHULUAN

1.1       Latar Belakang
Pertanian erat kaitannya dengan alat dan mesin pertanian. Dengan alat dan mesin pertanain yang semakin modern, maka produktifitas dibidang pertanian semakin tinggi. Tingginya produktifitas akibat dari menggunakan alat-mesin pertanian terkadang menciptakan biaya produksi yang sangat tinggi dan terkadang tidak sesuai dengan biaya produksi yang seharusnya. Oleh karena itu alat-mesin pertanian tidak selalu efektif dalam kegiatan pertanian.
Padi (bahasa latin: Oryza sativa L. ) adalah salah satu makanan pokok orang Indonesia dan beberapa negara di dunia. Produksi padi dunia menempati urutan ketiga dari semua serealia, setelah jagung dan gandum. Namun demikian, padi merupakan sumber karbohidrat utama bagi mayoritas penduduk dunia.
Indonesia adalah negara penghasil beras nomor satu di dunia dan juga sebagai konsumen beras terbesar didunia, yakni 98 persen per orang pertahun. Tingginya konsumsi beras di Indonesia mengakibatkan permintaan beras menjadi sangat tinggi, sehingga perlu digunakan mesin-mesin pertanian untuk meningkatkan produksi beras di Indonesia.
Untuk merubah padi menjadi beras, dilakukan proses penggilingan dengan menggunakan alat atau mesin penggiling padi. Alat yang digunakan biasanya masih peralatan tradisional berupa alu yang produktifitasnya rendah dan masih menggunakan tenaga manusia. Penggunaan mesin penggiling padi akan menghasilkan produktifitas yang jauh lebih tinggi dari pada penggunaan peralatan tradisional, tetapi harus mengeluarkan biaya yang lebih besar juga untuk mengoprasikannya. Oleh karena itu perlu dilakukan analisis kelayakan penggilingan padi untuk mengetahui layak tidaknya menggunakan mesin penggiling padi untuk penggilingan padi.

1.2       Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:
a.       Mengetahui layak atau tidaknya menggunakan mesin penggiling padi.
b.      Mengetahui cara menghitung biaya tetap dan biaya tidak tetap.
c.       Mengetahui biaya pokok penggilingan padi dengan mesin penggiling padi.

1.3       Manfaat
            Adapun manfaat yang bisa didapat dari penulisan makalah ini, diantaranya adalah sebagai berikut:
a.       Dapat menghitung biaya pokok alat-mesin pertanian.
b.      Dapat mempertimbangkan penggunaan alat atau mesin pertanian.
c.       Dapat membantu mahasiswa yang membutuhkan makalah mengenai mesin penggiling padi.



II. TINJAUAN PUSTAKA

Secara umum mutu beras dapat dikelompokkan ke dalam 4 kategori, yaitu mutu giling, mutu rasa dan mutu tunak, mutu gizi, dan standar spesifik untuk penampakan dan kemurnian biji (misalnya besar, bentuk dan kebeningan beras).
Mutu beras giling dikatakan baik jika hasil proses penggilingan diperoleh beras kepala yang banyak dengan beras patah minimal. Mutu giling ini juga ditentukan dengan banyaknya beras putih atau rendemen yang dihasilkan. Mutu giling ini sangat erat kaitannya dengan nilai ekonomis dari beras. Salah satu kendala dalam produksi beras adalah banyaknya beras pecah sewaktu digiling. Hal ini dapat menyebabkan mutu beras menurun (Allidawati dan Kustianto, 1989).
Saat ini telah dibuat RSNI mengenai mutu beras giling yang dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Mutu beras: RSNI 01-6128-200x
No
Komponen Mutu
Satuan
Mutu
I
II
III
IV
V
1
Derajat Sosoh (min)
%
100
100
95
95
95
2
Kadar Air (max)
%
14
14
14
14
14
3
Butir Kepala (min)
%
95
85
78
73
60
4
Butir Patah Total (max)
%
5
10
20
25
35
5
Butir Menir (max)
%
0
1
2
2
5
6
Butir Merah (max)
%
0
1
2
2
3
7
Butir Kuning/Rusak (max)
%
0
1
2
3
5
8
Butir Mengapur (max)
%
0
1
2
3
5
9
Benda Asing (max)
%
0
0.02
0.02
0.05
0.20
10
Butir Gabah (max)
Butir/
100g
0
1
1
2
3

Penggilingan beras berfungsi untuk menghilangkan sekam dari bijinya dan lapisan aleuron, sebagian mapun seluruhnya agar menhasilkan beras yang putih serta beras pecah sekecil mungkin. Setelah gabah dikupas kulitnya dengan menggunakan alat pecah kulit, kemudian gabah tersebut dimasukkan ke dalam alat penyosoh untuk membuang lapisan aleuron yang menempel pada beras. Selama penyosohan terjadi, penekanan terhadap butir beras sehingga terjadi butir patah. Menir merupakan kelanjutan dari butir patah menjadi bentuk yang lebih kecil daripada butir patah (Damardjati, 1988).
Beras merupakan sumber utama kalori bagi sebagian besar penduduk Indonesia. Pangsa beras pada konsumsi kalori total adalah 54.3% atau dengan kata lain setengah dari intake kalori masyarakat Indonesia bersumber dari beras (Harianto, 2001).
Menurut Nugraha et al.(1998), nilai rendemen beras giling dipengaruhi oleh banyak faktor yang terbagi dalam tiga kelompok. Kelompok pertama adalah faktor yang mempengaruhi rendemen melalui pengaruhnya terhadap mutu gabah sebagai bahan baku dalam proses penggilingan yang meliputi varietas, teknik budidaya, cekamaman lingkungan, agroekosistem, dan iklim. Kelompok kedua merupakan faktor penentu rendemen yang terlibat dalam proses konversi gabah menjadi beras, yaitu teknik penggilingan dan alat penggilingan. Kelompok ketiga menunjukkan kualitas beras terutama derajat sosoh yang diinginkan, karena semakin tinggi derajat sosoh maka rendemen akan semakin rendah.
Susut mutu dari suatu hasil giling dapat diidentifikasikan dalam nilai derajat sosoh serta ukuran dan sifat butir padi yang dihasilkan. Umumnya semakin tinggi derajat sosoh, persentase beras patah menjadi semakin meningkat pula.           Ukuran butir beras hasil giling dibedakan atas beras kepala, beras patah, dan menir (Anonim, 1983). Berdasarkan persyaratan yang dikeluarkan oleh Bulog, beras kepala merupakan beras yang memiliki ukuran lebih besar dari 6/10 bagian beras utuh. Beras patah memiliki ukuran butiran 2/10 bagian sampai 6/10 bagian beras utuh. Menir memiliki ukuran lebih kecil dari 2/10 bagian beras utuh atau melewati lubang ayakan 2.0 mm (Waries, 2006).
 




                                III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil
Adapun hasil yang diperoleh dapat dilihat pada tabel di bawah ini
Parameter
Nilai
Satuan
Harga Awal
Rp5.500.000,00

Harga Akhir
Rp550.000,00

Daya
3
HP
Jumlah Jam Kerja
840
Jam
Umur Ekonomis
5
Tahun
Tingkat Suku Bunga
12%
/Tahun
Pajak
2%
/Tahun
Garasi
1%
/Tahun
Upah Operator
Rp3.500,00
/Jam
Fc
0,11
l/HP/Jam
Fp
Rp4.500,00
/Liter
Oc
0,0054
l/HP/Jam
Op
Rp25.000,00
/Liter
S
10%

K
180
Kg/Jam
X
2

Y
15

A/P,12%,5
0,2638

A/F.12%,5
0,157409732

F/P,12%,0
1,1

V1
Rp3.300.000,00

V0
Rp5.500.000,00



3.2 Perhitungan
Dua komponen biaya yang di hitung dalam analisis baya penggilingan padi adalah biaya tetap dan biaya tidak tetap.Hasil dari aplikasi rumus untuk menghitung dua komponen biaya tersebut dapat dilihat pada uraian dibawah ini.
A. Biaya Tetap
a. Biaya Penyusutan
Biaya penyusutan dihitung menggunakan metode garis lurus yang memperhitungkan bunga modal.
Rp. 990.000,00/tahun
b. Biaya Bunga Modal dan Asuransi
Rp. 396.000,00 /tahun
c. Pajak
Rp. 110.000,00 /tahun
d. Biaya Bangunan/Garasi
Rp. 55.000,00 /tahun
Jumlah biaya tetap Rp. 1.551.000,00/tahun

B. Biaya Tidak Tetap
a. Biaya Bahan Bakar
Rp. 1.386.000,00
b. Biaya Pelumas
Rp. 340.200,00 /tahun
c. Biaya Grease
Rp. 15.000,00 /tahun
d. Biaya Perbaikan dan Pemeliharaan
Rp. 831.600,00 /tahun
e. Biaya Suku Cadang
Rp. 990.000,00 /tahun
f. Biaya Operator
Rp. 2.940.000,00 /tahun
Jumlah Biaya Tidak Tetap Rp. 6.502.800,00/tahun
Biaya Total Rp. 8.053.800,00/tahun
Biaya Pokok Rp. 53,27/kg






                                         DAFTAR PUSTAKA

Allidawati dan B.Kustianto. 1989. Metode uji mutu beras dalam program   pemuliaan padi. Bogor: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
Anonim. 1983. Studi Konservasi dan Susut Gabah ke Beras Tingkat Nasional.       Biro Pusat Statistik, Departemen Pertanian, Badan Urusan Logistik, Badan     Perencanaan Pembangunan Nasional, Fakultas Teknologi Pertanian, IPB.     Bogor.
BPS. 1996. Badan Pusat Statistik Indonesia.
Damardjati, D.S. 1988. Struktur kandungan gizi beras. Bogor: Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
Harianto. 2001. Pendapatan, harga, dan konsumsi beras. Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia: Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat.
Nugraha, U.S., S.J.Munarso, Suismono dan A. Setyono. 1998. Tinjauan tentang     rendemen beras giling dan susut pascapanen: 1. Masalah sekitar rendemen      beras giling, susut dan pemecahannya. Sukamandi: Balai Penelitian Tanaman Padi.
Waries, A. 2006. Teknologi Penggilingan Padi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.



LAMPIRAN


                                                                        Tipe                 : 6N-80D
Dimensi           : (850 x 500 x 94) mm
Kapasitas         : 180 kg/jam
Daya                : 3 Hp
N                     : 1600 rpm
Massa              : 75 kg
Harga              : Rp. 5.500.000



Nama               : Lumpang Alu
Dimensi           : -
Massa              : -
Kapasitas         : -
Harga              : Rp. 100.000
Padi Siap Panen


Beras (padi yang sudah melalui proses penggilingan)




Foto seorang sedang menggiling padi
 



 

No comments:

Post a Comment