Tuesday, February 10, 2015

NORMALITAS DAN ABNORMAL

 


Ketika mempelajari tema  Psikologi Abnormal, mungkin anda pernah menyaksikan tingkah laku yang aneh-aneh di tempat-tempat umum, atau bahkan di rumah anda sendiri, atau andah pernah mendengar dan ikut mendiskusikam tentang sesuatau penyakit mental dari seorang kenalan.
         Pengalman-pengalaman tersebut ada kalanya valid dan bisa dipercaya, oleh sebab itu, perlu kiranya kita mendapatkan konsep yang benar  mengenai pengertian “Abnormalitas “. Hal ini dapat dilakukan dengan mengadakam penyelidikan tentang :
1. Perbedaan antara tingkah laku yang normal dan yang abnormal.
2. Hubungan psikologi abnormal dengan disiplin-disiplin ilmu yantg bertautan.
3. Problem-problem social dan problem-problem medis ( masalah herediter, luka-luka
dan penyakit-penyakit ) yang menyebabkan timbulnya pribadi yang terganggu dan tingkah laku abnormal.
4. Klasifikasi disorder mental/gangguan  mental/penyakit mental.
NORMAL DAN ABNORMAL
         Psikologi abnormal bersangkut-paut dengan tingkah laku abnormal. Pada hakekatnya, konsep tentang normalitas dan abnormalitas itu sangat samara-samar batasnya. Sebab, kebiasaan-kebiasaan dan sikap hidup yang dirasakan sebagai normal oleh sesuatu kelompok masyarakat, dapat dianggap sebagai abnormal  oleh kelompok kebudayaan lainnya.
Pribadi yang normal dan pribadi yang abnormal
         Pribadi yang normal itu secara relatif dekat sekali dengan integrasi jasmaniah dan rohaniah yang ideal. Kehidupan psiskisnya kurang lebih stabil sifatnya, tidak banyak memendam konflik-konflik batin, tenaga dan jasmaniahnya sehat selalu.
         Pribadi yang abnormal mempunyai atribut secara relatif mereka itu jauh daripada status integrasi. Ada tintgkat atribut “ inferior ” dan “ superior ”.
Kompleks-komples inferior ini misalnya terdapat pada penderita psikopat, neuron dan psikosa. Dan kompleks-kompleks superior itu terdapat pada kelompok kaum Idiot savant (kaum ilmuwan/cerdik pandai yang bersifat idiot) yang memiliki quotient intelegensi (I.Q.) yang tinggi, misalnya dibidang seni, musik, metematika, ilmu pengetahuan alam dan lain-lain.
Pribadi yang abnormal pada umumnya dihinggapi gangguan mental atau ada kelainan-kelainan/abnormalitas pada mentalnya. Orang-orang abnormal ini selalu diliputi banyak konflik-konflik batin, miskin jiwanya dan tidak stabil, tanpa perhatian pada lingkungannya, terpisah hidupnya dari msyarakat, selalu gelisah dan takut dan jasmaninya sering sakit-sakitan.
         ABNORMALITAS dari beberapa segi, yaitu segi patologis, statistik, dan segi kultural/budaya.
1.      Abnormal dipandang dari segi patologis
Dipandang dari segi patologis, tingkah laku abnormal itu adalah akibat suatu kecelakaan, suatu penyakit, atau status kepribadian yang kacu (disorder state), yang kita jumpai pada penderita-penderita simpton klinis tertentu. Misalnya ada banyak unsur ketakutan dan kecemasan khronis yang tidak beralasan pada penderita psikoneurosa; gejala delusi, ilusi dan halusinasi pada psikosa juga tingkah laku anti-sosial pada pribadi yang sosiopatik.
2.      Abnormal dipandang dari segi statistik
Ini merupkan pendekatan secara grafis (tertulis dan gambaran) dan secara matematis
mengenai masalah siapakah yang noemal dan abromal.
Gambar

      Kurve distribusi normal pada gambar dihalaman depan menunjukan konsep statistic tentang orang-orang normal dan yang tidak normal. Gambar tersebut membuktikan, bahwa subyeknya lebih banyak terdapat/berkumpul di tengah-tengah kurve. Dan kasus disebelah pertengahan kurve merupakan jumlah abnormalitas. Menurut konvensi statistic tersebut, “ range normal “ yang terdapat pada bagian tengah kurve tersebut meliputi kurang lebih 2/3 (dua pertiga) dari jumlah kelompok tersebut.
3.      Abnormalitas dipandang dari segi kultur/kebudayaan
      Dari segi pandang ini, tingkah laku dan sikap hidup seseorang dianggap sebagai normal atau abnormal bergantung pada lingkungan kebudayaan tempet tinggal orang tersebut.
      Masyarakat itu merupakan hakim yang “keras” dan “kejam” terhadap tingkah laku para anggotanya dan cenderung tidak mentolerir tingkah laku yang menyimpang dari norma umum yang ada. Tetapi penyimpangan yang bersifat radiakal dan bisa menyebabkan kekacauan pada perorangan dan lingkungannya, sangat dikecam. Dan seseorang tersebut dianggap sebagai pribadi yang abnormal.
4.      Kriteria pribadi yang normal
Deskripsi tentang pribadi yang normal dengan mental yang sehat dituliskan dalam satu daftar criteria oleh Maslow and mitelmann dalam bukunya “ Principle of Abnormal Psychology “, yang kami kutip antara lain sebagai berikut :
1)      Memiliki perasaan aman ( sense of security ) yang tepat.
Dalam suasana sedemikian dia mampu mengadakan kontak yang lancer dengan orang lain dalam berbagai bidang.
2)      Memiliki penilaian diri ( self evaluation ) dan insight/wawasan rasional.
Memiliki harga diri yang cukup, dan tidak berkelebihan. Memiliki perasaan sehat secara moril, tanpa ada rasa-rasa berdosa dan memiliki kemampuan menilai tingkah laku manusia lain.
3)      Memiliki spontanitas dan emosionalitas yang tepat.
Mampu menciptakan hubungan yang erat, kuat dan lama, seperti persahabatan, komunikasi social dan relasi cinta. Dia mampu mengekspresikam rasa kebencian dan kekesalan hatinya tanpa kehilanagan kontrol terhadap diri sendiri.
4)      Mempunyai kontak dengan relitas secara efisien.
Yaitu kontak dengan dunia fisik/materil, tanpa ada fantasi dan angan-angan yang berlebihan, karena dia memiliki pandangan hidup yang realistis dan cukup luas tentang dunia manusia.
5)      Memiliki dorongan-dorongan dan nafsu jasmaniah yang sehat.
Memiliki kemampuan untuk memenuhi dan memuaskannya. Ada kemampuan dan gairah untuk bekerja, tanpa dorongan yang berlebih-lebihan dan dia than menghadapi kegagalan-kegagalan, kerugian-kerugian dan kemalangan.
6)      Mempunyai pengetahuan diri yang cukup.
Dia bisa menghayati motif-motif hidupnya dalam status sadar. Dia menyadari nafsu-nafsu dan hasratnya, cita-cita dan tujuan hidupnya yang realistis, dan bisa membatasi ambisi-ambisi dalam batasan-batasan kenormalan.
7)      Mempunyau tujuan/obyek hidup yang adekuat.
Dalam artian, tujun hidup tersebut dapat bisa dicapai dengan kemampuan sendiri, sebab sifatnya realistis dan wajar.
8)      Memiliki kemampuan untuk belajar dri pengalaman hidupnya.
Yaitu ada kemampuan menerima dan mengolah pengalamannya tidak secara kaku. Juga ada kesanggupan belajar secara spontan, serta bisa mengadakan evalusi terhadap kekuatan sendiri dan situasi yang dihadapinya, agar supaya ia sukses.
9)      Ada kesanggupan untuk memuaskan tuntutan-tuntutan dan kebutuhan dari kelompoknya tempat dia berada.
Sebab dia tidak terlalu berbeda dari anggota kelompok lainnya (tidak terlampau menyimpang). Dia mampu mengekang nafsu-nafsu serta keinginan-keinginan yang dianggap sebagai tabu dan larangan oleh kelompknya.
10)  Ada sikap emansipasi yang sehat terhadap kelompoknya dan terhadap kebudayaan.
Namun demikian diamasih tetap memiliki originalitas (keaslian) serta individualitas yang khas dan bisa membedakan antara perbuatan buruk dan yang baik.
11)  Ada integrasi dalam kepribadian.
Ada perkembangan dan pertumbuhan jasmaniah dan rohaniah yang bulat. Disamping itu dia memiliki moralitas dan kesadaran yang tidak kaku sifatnya flexsible  terhadap group dan masyarakatnya.

No comments:

Post a Comment