Monday, February 9, 2015

Mengapa Manusia Membutuhkan Bimbingan Konseling




1.      Mengapa Manusia Membutuhkan Bimbingan Konseling?
Jawab
Menurut  ahli dalam psikologi, ada tiga alasan mengapa manusia membutuhkan bimbingan konseling. Yang pertama adalah karena manusia itu unik, setiap manusia memiliki perbedaan bahkan jika mereka kembar, tetap memiliki perbedaan dalam banyak hal. Oleh karena itu, manusia membutuhkan bimbingan orang yang lebih ahli untuk dapat memahami dan menyesuaikan diri dengan perbedaan tersebut.
Alasan yang kedua adalah karena aktivitas manusia. Manusia merupakan makhluk dinamis yang selalu bergerak dan beraktivitas. dalam setiap aktivitas tersebut, manusia sering mendapat kendala dan masalah, oleh karena itu mereka membutuhkan bimbingan dan konseling untuk menghadapi berbagai kendala dalam aktivitasnya.
Alasan yang ketiga adalah kebutuhan akan bimbingan secara terus menerus. Seperti yang kita ketahui bahwa manusia terus-menerus berkembang, Mulai dari bayi, balita, anak-anak, remaja, dewasa dan akhirnya menjadi tua. Pada setiap tahap perkembangan tersebut, manusia mengalami permasalahan yang berbeda-beda dan membutuhkan cara penyelesaian masalah yang berbeda pula. Oleh karena itu, mereka membutuhkan bimbingan dari orang yang lebih ahli untuk dapat mengatasi masalahnya.
Selain pandangan di atas, ada pula tiga pendapat lain dalam perspektif psikologi yang menjelaskan mengapa manusia membutuhkan bimbingan konseling. ahli tersebut menjelaskan bahwa setiap manusia memiliki sikap menyukai dan tidak menyukai, hal ini menjadikan setiap manusia berbeda. jika hal ini dibiarkan begitu saja, maka dapat menimbulkan perpecahan antar manusia. oleh karena itu dibutuhkan bimbingan konseling agar manusia bisa saling memahami dan menyesuaikan diri terhadap hal-hal yang disukai maupun yang tidak disukai.
Yang kedua adalah karena cara berpikir manusia yang berbeda-beda, yaitu kritis, analitis, dan kreatif. Setiap pemikiran tersebut akan menghasilkan output yang berbeda pula. Oleh karena itu, manusia membutuhkan bimbingan konseling untuk menselaraskan pemikiran – pemikiran yang berbeda.
Yang ketiga adalah setiap manusia ingin dicintai, diterima, dan dihargai. Sayangnya terkadang manusia tidak tahu cara agar mendapat ketiga hal tersebut. Terkadang, manusia mengerti caranya namun salah dalam mempraktikkannya. Oleh karena itu, manusia membutuhkan bimbingan konseling agar dapat dicintai, diterima dan dihargai dengan cara yang benar.
 Setelah membahas alasan mengapa manusia membutuhkan bimbingan konseling dari perspektif psikologi, kini kita akan membahasnya dalam perspektif Islam.
Ada dua istilah yang penting untuk dapat memahami mengapa manusia membutuhkan bimbingan konseling dari perspektif Islam. Yang pertama adalah fitrah dan yang kedua adalah nafs.
Fitrah berasal dari bahasa arab yang memiliki setidaknya tiga arti yaitu suci;-terbebas dari dosa-, potensi bawaan, dan kecenderungan percaya kepada Tuhan yang Maha Esa. Hal ini berdasarkan hadits Nabi Muhammad SAW:
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
“Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua ibu-bapaknyalah yang akan menjadikannya seorang Yahudi atau seorang Nasrani atau seorang Majusi”.

fitrah manusia
Arti fitrah sebagai potensi bawaan merupakan hal yang penting dalam kajian bimbingan konseling. Setiap manusia memiliki potensi bawaan berupa asmaul husna dalam jumlah yang terbatas yang ditiupkan oleh Allah ketika manusia berumur 4 bulan di dalam kandungan. Potensi-potensi tersebut tidak akan berkembang maksimal jika tidak dikelola secara benar. oleh karena itu, setiap manusia membutuhkan bimbingan konseling agar dapat mengembangkan segala potensi yang telah diberikan Allah secara maksimal.
Nafs berasal dari bahasa arab yang artinya “jiwa”. Dalam Islam, jiwa dibagi menjadi tiga yaitu nasf al-ammarah, nafs al-lawwamah, dan nafs al-mutmainnah. nafs al-ammarah merupakan nafs yang condong kepada perbuatan buruk dan hanya mencari kesenangan dunia, nafs al-lawwamah adalah nafs yang sering menyalahkan dirinya sendiri sedangkan nafs al-mutmainnah adalah nafs yang tenang.
Dalam konsep nafs, bimbingan konseling dibutuhkan untuk (setidaknya) menaikkan nafs satu tingkat lebih tinggi, dari nafs al-ammarah menjadi nafs allawamah, dari nafs al-lawamah menjadi nafs al-mutmainnah dan mempertahankan serta menjaga agar posisi nafs yang sudah berada  di atas agar tidak turun ke tingkat di bawahnya. Menjaga nafs al-mutmainnah agar tidak turun ke nafs al-lawwamah, dan nafs al-lawamah tidak turun kepada nafs al- ammarah.
Demikianlah beberapa alasan mengapa manusia membutuhkan bimbingan konseling baik dari perspektif psikologi maupun perspektif Islam. Dalam artikel selanjutnya, kita akan membahas area kajian dan pelayanan bimbingan konseling.
2.      Mengapa Bimbingan dan Konseling Islam dipandang mampu mengatasi problem manusia modern dewasa ini?

Jawab

Karena Yang menjadi dasar pijakan utama bimbingan dan konseling islam adalah al-Qur’an dan Hadits. Keduanya merupakan sumber hukum Islam atau dalil-dalil hukum.Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda artinya : Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara atau pusaka, kalian tidak akan tersesat selama-lamanya, selama kalian berpegang kepada keduanya; kitabullah (Qur’an) dan Sunnah Rasulnya (HR Muslim). Dalam al-Qur’an Allah berfirman, artinya : Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah (Q.S. Al-Hasyr:7). Al-Qur’an dan Hadits merupakan landasan utama yang dilihat dari sudut asal-usulnya, merupakan landasan naqliyah, maka landasan lain yang dipergunakan oleh bimbingan dan konseling islami yang sifatnya aqliyah adalah filsafat dan ilmu, dalam hal ini filsafat Islam dan ilmu atau landasan ilmiah yang sejalan dengan ajaran Islam. Selain itu juga hakikat manusia dibumi sebagai :
1.      Sebagai makhluk yang lemah (‘abdun).
Dalam kondisi fisik yang tak berdaya, orang membutuhkan bantuan orang lain, dokter misalnya – untuk memulihkan kesehatannya. Demikian pula dalam kondisi mental yang kacau, seseorang membutuhkan bantuan kejiwaan, untuk memulihkan rasa percaya dirinya, meluruskan cara berfikir, cara pandang dan cara merangsangnya sehingga ia kembali realistis, mampu melihat kenyataan sebenarnya dan mampu mengatsi problemnya dengan cara-cara yang apat dipertanggung jawabkan.
2.      Sebagai Khalifah Allah.
Dalam perspektif Bimbingan dan Konseling Islam, seorang muslim sebagai khalifah Allah terpanggil untuk membantu orang lain yang sedang mengalami gangguan kejiwaan yang menyebabkan orang itu tak mampu mengatasi tugas-tugas nya dalam kehidupan.
            Selain merujuk pada dua predikat tersebut, di sini juga disinggung beberapa urgensi Bimbingan dan Konseling Islam, diantaranya;
a.       Manusia yang tidak lepas dari masalah.
b.      Manusia yang selalu bersifat idealis, dinamis.
c.       Untuk menemukan jati diri manusia itu sendiri.
d.      Untuk mencapai kesejarteraan.
            Untuk mengetahui kedudukan Bimbingan Konseling Agama, dalam prespektif keilmuan maupun prespektif sjsrsn Islam, sekurangnya perlu diketahui lebih dahulu empat hal, yaitu;
1.      Bantuan kodrat kejiwaan manusia membutuhkan bantuan psikologis.
2.      Gangguan kejiwaan yang berbeda membutuhkan terapi yang tepat.
3.      Meskipun manusia memiliki fitrah kejiwaan yang cenderung pada keadilan dan kebenaran, tetapi daya tarik kepada keburukan lebih banyak dan lebih kuat tarikannya sehingga mtif kepada keburukan lebih cepat merespon stimulus kebenaran, mendahului respon motif kepada kebaikan atas stimulus kebaikan.
4.       Keyakinan agama (keimanan) merupakan bagian dari struktur kepribadian, sehingga getar batin dapat di jadikan penggerak tingkah laku (motif) kepada kebaikan. (Achmad Mubarok, 2000: 23-25)









3.      Bagaimana konsep dan strategi BKI dalam mengarakan dan mengembangkan Potensi manusia
Jawab
Pada prinsipnya, semua manusia diciptakan oleh Allah SWT sebagai makhluk yang fitri, suci, bersih, sehat serta atribut-atribut positif lainnya. Oleh karena itu, sebagai makhluk ciptaan Allah, maka seharusnya manusia selalu berpegang teguh pada agama Allah (Islam), oleh karena itu diperlukan suatu upaya pengembangan potensi yang searah dengan tujuan Islam yaitu dengan Bimbingan dan Konseling Islam (BKI). BKI ini merupakan proses pemberian bantuan yang terarah, kontinu dan sistematis kepada setiap individu agar dia dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya secara optimal dengan cara menginternalisasikan nilai-nilai yang terkandung di dalam Al-Qur’an dan Hadist Rasulullah ke dalam diri, sehingga ia dapat hidup selaras dengan tuntunan Al-Qur’an dan Hadist. Bila internalisasi nilainilai yang terkandung di dalam Al-Qur’an dan Hadist itu tercapai dan potensi telah berkembang secara optimal, maka individu tersebut dapat menciptakan hubungan yang baik. Manusia di hadapan Allah Ta’ala bukanlah makhuk-Nya yang lain, akan tetapi seorang makhluk yang memiliki kelebihan yang luar biasa. Hal itu terbukti dengan jatuhnya pilihan-Nya kepadanya sebagai “KHALIFAH”, yakni menaburkan potensi keselarasan, kemanfaatan, musyawarah dan kasih sayang ke seluruh penjuru alam, baik alam di bumi maupun di langit, di dunia maupun di akhirat. Dalam hal ini konsep BKI tentang Potensi-potensi yang ada dalam diri manusia adalah:
       I.            Potensi Nur Ilahiyah
Nur Ilahiyah adalah potensi yang paling tinggi dan bersifat luas, gaib dan tidak terbatas, karena ia sangat sangat dekat dengan eksistensi Allah Ta’ala. Banyak orang yang tidak mengembangkan potensi Nur (cahaya), sebagamana sejak zaman azali Allah Ta’ala telah menganugerahkan kepada mereka, maka kerugian, kekurangan dan kesempurnaanlah yang akan mereka dapatkan di dalam hidup dan kehidupan ini. Imam Al-Ghazali setelah melewati  saat-saat yang kritis dari pergulatan spiritualnya, ia menyatakan;
“Hal itu tidak datang karena alasan-alasan yang terarah atau karena argumentasi yang tersusun rapi, tetapi datangnya dari Nur yang telah ditawarkan Allah sedalam-dalamnya di hati sanubari saya, NUR ILAHI itu merupakan kunci menuju bahagia terbesar dari pengetahuan”.

   II.          Potensi Ruh Ilahiyah
Menurut Syeikh Muhyiddin Ibn ‘Araby R.A., beliau menafsirkan bahwa orang yang bertanya itu adalah orang-orang yang kemampuan mereka tidak dapat melampaui batas rasa inderawi (al-hissi) dan yang dirasakan (al-mahsus), dengan penyerupaan pada sebagian apa yang mereka telah rasakan dari suatu penyifatan yang berasal dari alam amr (perintah); yaitu alam penciptaan yang ia merupakan alam dzat-dzat yang murni dari matri yang pertama; yaitu berupa jauhar-jauhar (mutiara-mutiara) yang disucikan dari bentuk, warna, aspek, dan tempat. Untuk mencapainya tidak akan mungkin bagi orang-orang yang terdinding dengan suatu keadaan (ruang dan waktu), karena kemampuan mereka yang memiliki kekurangan serta sedikitnya ilmu pengetahuan mereka. Sedangkan pengertian mereka diberi ilmu hanya sedikit; yaitu ilmu tentang yang dirasakan (inderawi), ia merupakan sesuatu yang kurang lagi hina, jika dibandingkan atau sinisbatkan kepada ilmu Allah Ta’ala dan orang yang mendalam ilmunya.
Dalam permasalahan ruh ini banyak para ilmuwan dan sebagian besar orang awam tersesat karenanya. Agar terhindar dari kesesatan itu hendaklah tetap berpegang teguh kepada Al-kitab dan As-Sunnah, dan yang telah memjadi pedoman bagi orang salih terdahulu, bahwa “tidak ada Tuhan selain Allah dan selain Allah adalah alam (makhluk)-Nya”.

III.          Potensi Nafs Ilahiyah
Dalam prespektif bahasa kata “nafs” memiliki beberapa arti, seperti : jiwa, darah, badan, dan orang. Dr. M.Quraish Shihab M.A., menyatakan bahwa kata nafsdalam Al Qur’an mempunyai beberapa makna, sekali diartikan sebagai totalias manusia. Pengertian nafs di sini adalah yang berhubungan dengan eksistensi seorang manusia sebagai hamba Allah Ta’alam hal mana ia memiliki potensi yang khusus dalam diri setiap hamba.
IV.          Potensi Qalb Ilahiyah
Asal kata “Qalb” bermakna membalikan, memalingkan atau menjadikan yang di atas ke bawah yang di salam keluar. Qalbu berasal dalam bentuk masdar atau kata benda mengandung arti lubuk hati, akal, kekuatan, semangat, dan keberanian.
Pengertian qalb adalah dalam makna rohaniyah dan ia tidak dapat di lihat dengan kepala mata kepala, kecuali dengan pengelihatan batiniyah (mukasyafah). Ia merupakan tempat menerima perasaan kasih sayang, pengajaran, pengetahuan, berita, kekuatan, keimanan, keislaman, keikhlasan dan ketauhitan.
   V.          Potensi Akal Ilahiyah
Kata “Aql” tidak ditentukan di dalam Al Qur’an, yaitu akal sebagai isim atau kata benda; yang ada hanya bentuk fi’il (kata kerja), masa lalu (madhi), masa sekarang atau akan datang (mudhori’). Asal makna itu adalah ikatan, tambatan, benteng atau penghalang. Al Qur’an menggunakan kata ‘aql ini untuk sesuatu yang mengikat atau menghalangi seseorang terjeruumus dalam kesalahan atau dosa. Dan Al Qur’an tidak menjelaskan secara eksplisit, namun dari konteks ayat-ayat yang menggunakan akar kata ‘aql dapat dipahami bahwa ia antara lain adalah:
    Daya untuk memahami dan menggambarkan sesuatu
    Dorongan moral
    Daya untuk menggambil pelajaran dan kesimpulan serta hikmah

VI.            Potensi Inderawi Ilahiyah
Allah SWT menjadikan kesempurnaan yang lengkap dalam diri seseorang manusia dengan potensi inderawi, yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman,dan peraba. Kelima cabang atau macam potensi inderawi itupun memiliki berbagai tingkatan dan bobot. Bagi orang kebanyakan kelimanya hanya sekedar pelengkap sebagai manusia yang hidup, akan tetapi mereka tidak dapat memahami secara lebih spesifik, bahwa kelimanya mempunyai fungsi Ilahiyah yang besar. (Hamdani Bakran Adz Dzaky, 2001: 25-65).











4.      dimana letak persamaan dan perbedaan mendasar antara bimbingan konseling umum dan bki dalam memandang persoalan-persoalan kemanusian jelaskan.

Jawab
Perbedaan  Bimbingan dan Konseling umum dengan bimbingan dan Konseling Islami menurut Thohari Musnamar, di antaranya yaitu:
1.    Pada umumnya di barat proses layanan bimbingan dan konseling tidak dihubungkan dengan Tuhan maupun ajaran agama. Maka layanan bimbingan dan konseling dianggap sebagai hal yang semata-mata masalah keduniawian, sedangkan Islami menganjurkan aktifitas layanan bimbingan dan konseling itu merupakan suatu  ibadah kepada Allah SWT suatu bantuan kepada orang lain, termasuk layanan bimbingan dan konseling, dalam ajaran Islam di hitung sebagai suatu sedekah.
2.   Pada umumnya konsep layanan bimbingan dan konseling barat hanyalah di dasarkan atas pikiran manusia. Semua teori bimbingan dan konseling yang ada hanyalah didasarkan atas pengalaman-pengalaman masa lalu, sedangkan konsep bimbingan dan konseling Islami didasarkan atas, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, aktivitas akal dan pengalaman manusia.
3.        Konsep layanan Bimbingan dan konseling Barat tidak membahas masalah kehidupan sesudah mati. Sedangkan konsep layanan bimbingan dan konseling Islami meyakini adanya kehidupan sesudah mati
4.        Konsep layanan bimbingan dan konseling Barat tidak membahas dan mengaitkan diri dengan pahala dan dosa. Sedangkan menurut bimbingan dan konseling Islami membahas pahala dan dosa yang telah di kerjakan.

Persamaan BK umum dan BKI
BKI
Manusia memiliki dua unsur pokok yaitu jasmani dan rohani. Karena terdiri dari berbagai ragam unsur jasmani dan rohani, berakal, berhati nurani, berpenglihatan, dan berpendengaran. Atau lazimnya juga dikatakan memiliki unsur cipta, rasa, dan karsa, yang keseluruhannya merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Manusia sesuai dengan hakikatnya: diciptakan dalam keadaan yang terbaik, termulia, tersempurna, dibandingkan makhluk lainnya. Tetapi sekaligus memiliki hawa nafsu dan perangai atau sifat yang buruk misalnya, suka menuruti hawa nafsu, lemah, terburu-buru, aniaya, membantah, dll. Karena manusia dapat terjerumus ke dalam lembah kenistaan, kesengsaraan, dan kehinaan dengan kata lain, manusia bisa bahagia hidupnya di dunia maupun akhirat maupun bisa sengsara atau tersiksa. Mengingat berbagai sifat seperti itu maka diperlukan adanya upaya untuk menjaga agar menusia tetap menuju ke arah bahagia, menuju ke citranya yang terbaik. Maka itu, manusia perlu bimbingan dan konsling dari seseorang.Selain itu, manusia juga memiliki beberapa hakekat:
a) Manusia memiliki unsur jasmania (biologis)Karena manusia memiliki unsur jasmania atau biologis, manusia memiliki berbagai kebutuhan biologis yang harus dipenuhinya. Misalnya,makan, minum, menghirup udara, berpakaian, bertempat tinggal dan sebagainya.
b) Dari segi rohaniah (psikologis) Sesuai dengan hakikatnya, manusia memerlukan pula pemenuhan rohaniah dalam arti psikologis. Manusia dianugerahi kemampuan rohaniah(psikologi) pendengasran, penglihatan dan kalbu. c) Dari sudt individu
Problem-problem yang berkaitan dengan kondisi individualdengan demikian akan kerap muncul di hadapan manusia. Agar problem-problem tersebut tidak menjadikan manusia hidup tidak selaras dengan ketentuan dan petunjuk Allah SWT. Bimbingan dan konseling islami diperlukan kehadirannya.d) Dari sudut sosial Selain sebagai makhluk individual, manusia juga makhluk sosial yang senantiasa berhubunganb dengan manusia lain dalam kehidupan kemasyarakatan. Semakin modern kehidupan manusia, semakin kompleks tatanan kehidupan yang harus dihadapi manusia.e) Dari segi budaya Manusia hidup dalam lingkungan fisik dan sosial. Semakin meningkat kehidupan, manusia berupaya terus meningkatkan berbagai kebudayaan dan peradapannya.f) Dari segi agamaKonflik-konflik batin dalam diri manusia yang berkenaan dengan ajaran agama islam, maupun lainnya, banyak ragamnya, oleh karenanya diperlukan selalu adanya bimbingan dan konseling islam yang memberikan bimbingan kehidupan yang bahagia di dunia dan akhirat.
Ada beberapa pendapat para ahli atau mahzab di BK tentang umum manusia:
A.    VIKTOR E.FRANKL(Pratyitno dan erman amti)mengemukakan bahwa hakikat manusia itu
sebagai berikut:
1) manusia selain memiliki dimensi fisik dan psikologis ,juga memiliki dimensi spritual.ketiga dimensi itu harus dikaji secara mendalam apabila manusia itu hendak dipahami dengan sebaik-baiknya .melalui dimensi spritualnya itulah manusia mampu mencapai hal-hal yang berada diluar dirinya dan mewujudkan ide-idenya.
2) manusia adalah unik,dalam arti bahwa manusia mengarahkan kehidupanya sendiri.
3) manusia adalah bebas merdeka dalam berbagai keterbatasanya untuk membuat pilihan -pilihan yang menyangkut perkehidupanya sendiri.kebebasan ini memuingkinkan manusia berubah dan menentukan siapa sebenarnya diri manusia itu dan akan menjadi apa manusia itu sendiri.
B. sigmund Freud mengemukakan sebagai berikkut:
1) manusia pada dasarnya bersifat pesimistik,deterministik,mekanistik,dan
reduksionustik.
2) manusia dideterminasi oleh kekuatan-kekuatan irasional,motivasi-motivasi tak
sadar,dorongan-dorongan biologis,dan pengalaman masa kecil.
3) dinamika keperibadian berlansung melalui pembagian enerji psikis kepada ID,Ego
dan Superego yang bersifat saling mendominasi.
4) manusia memiliki naluri-naluri seksual(libido seksua)dan agresif ;naluri kehidupan
(eros)dan kematian (tanatos)
5) manusia bertingkah laku dideterminasi oleh hasrat memperoleh kesenangan dan
menghindari rasa sakit.

 

No comments:

Post a Comment