Tuesday, February 10, 2015

Bagaimana Anak Mengenal Tuhan

Ernest Harms dalam bukunya The Development of Religious on Children menguraikan tiga jenjang perkembangan keagamaan pada anak sebagai berikut :
  1. The Fairy Tale Stage (Tingkat Dongeng), yaitu dimulai dari usia 3-6 tahun. Pada tahap ini konsep mengenai Tuhan lebih banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi, sehingga dalam menanggapi agama juga senang dengan hal fantastis yang diliputi oleh dongeng.
  2. The Realistic Stage (Tingkat Kenyataan), yang dimulai pada usia sekolah hingga masa adolesense. Masa ini ditandai dengan ide ketuhanan yang mencerminkan konsep-konsep nyata. Pada masa ini sifat emosional dan formalis menandai pengetahuannya tentang Tuhan. Konsep ini didapat dari lembaga-lembaga keagamaan dan pengajaran agama, sehingga anak-anak pada masa ini senang pada lembaga-lembaga dan perayaan-perayaan formal yang mereka ikuti.
  3. The Individual Stage (Tingkat Individu) yang merupakan tingkat tetinggi perkembangan keberagamaan anak dengan kepekaan emosi yang tinggi. Tahap ini dibagi kepada tiga golongan :
    1. Konsep ketuhanan yang konvensional dan konservatif dengan dipengaruhi sebagian kecil fantasi.
    2. Konsep ketuhanan yang lebih murni yang dinyatakan dalam pendangan yang bersifat personal (perorangan).
    3. Konsep ketuhanan yang bersifat humanistik. Agama telah menjadi etos humanis pada diri mereka dalam menghayati ajaran agama.
Penjelasan Ernest Harms di atas tidak menguraikan sejak awal perkembangan keberagamaan anak sejak usia nol bahkan sejak dalam kandungan. Karena, pada dasarnya potensi telah dimiliki oleh seorang anak sejak proses penciptaan dalam kandungan.
Karena telah adanya potensi tersebut, maka pengetahuan terhadap hal-hal gaib yang merupakan bagian terpenting dari agama, sudah pasti sesuai dengan jiwa anak. Tentang Tuhan misalnya, anak sesuai dengan fitrah memiliki kecenderungan yang alami untuk mengenal-Nya. Ini adalah pengenalan anak tentang Tuhan di alam internal dirinya.
Adapun di dunia eksternal (dari luar diri), pertama kali pengenalan anak tentang Tuhan adalah melalui pendengaran. Di dalam Islam, hal ini dilakukan dengan membacakan azan dan iqamah ditelinga anak yang baru lahir. Perlahan-lahan, melalui bahasa dan ucapan orang di sekitarnya, nama Tuhan yang sering disebut dan ucapkan dalam berbagai aktifitas tertanam dalam pikiran dan ingatannya, meskipun awalnya diterima secara acuh tak acuh aja. Akan tetapi, reaksi orang-orang disekitarnya ketika menyebut nama Tuhan tetap tergambar dalam benak anak. Hal ini akan menghadirkan rasa gelisah dan ragu tentang sesuatu yang gaib yang tidak dikenalnya itu, mungkin ia akan ikut membaca dan mengulang kata-kata yang diucapkan oleh orang tuanya.
Lambat laun tanpa disadarinya, akan masuklah pemikiran tentang Tuhan dalam pembinaan kepribadiannya dan menjadi objek pengalaman agamis. Maka Tuhan bagi anak-anak pada permulaan merupakan nama sesuatu yang asing dan tidak dikenalnya serta diragukan kebaikan niatnya. Tidak adanya perhatian tentang Tuhan pada permulaan adalah karena ia belum mempunyai pengalaman yang akan membawanya ke sana, baik pengalaman yang menyenangkan maupun yang menyusahkan. Akan tetapi, setelah ia menyaksikan reaksi orang-orang disekelilingnya, yang disertai oleh emosi atau perasaan tertentu maka timbullah pengalaman tertentu, yang makin lama makin meluas dan mulailah perhatiannya terhadap kata Tuhan itu tumbuh (Daradjat,1993: 35-36)
Sedangkan dalam pandangan Sigmund Frued, Tuhan bagi anak tidak lain adalah orang tua yang diproyeksikan. Pada usia dini, anak-anak menganggap orang tuanya, terutama Bapak, sebagai orang yang maha tahu dan maha kuasa. Pemeliharaan yang penuh perlindungan dan kasih sayang yang dilakukan oleh sosok-sosok berkuasa seperti itu menenteramkan anak yang tidak berdaya dan ketakutan, serta menciptakan surga buatan baginya. Bertahun-tahun kemudian ketika kekuatan alam dan situasi hidup lainnya sekali lagi membangkitkan perasaan tidak berdaya, sehingga kerinduan individu akan seorang Bapak yang berkuasa memperoleh pemuasannya dalam pengkhayalan citra Tuhan sebagai Bapak yang mengayomi dan melindungi. Jadi “Tuhan” pertama anak-anak adalah orang tuanya, dan biasanya terdiri dari ayah dan ibu. Dari lingkungan yang penuh kasih sayang yang diciptakan oleh orang tua, akan lahirlah pengalaman keagamaan yang mendalam. (lihat Crapps, 1994 : 14; Rakhmat, 172-173)
Pemikiran Frued ini mengimplikasikan, bahwa jika anak, sejak kecil ditinggalkan oleh orang tuanya, maka kemungkinan besar anak tersebut akan menjadi ateis, tidak mempercayai keberadaan Tuhan, karena tiadanya citra awal ketuhanan melalui sosok orang tua.
Pandangan tokoh psikoanalisis ini, ternyata hanyalah khayalan hampa. Betapa banyak fakta, yang ternyata mengingkari pendapat Frued tersebut. Frued mungkin kebingungan bagaimana, Nabi Isa as. yang tidak memiliki ayah bisa beriman pada Tuhan, begitu pula Rasulullah Muhammad saaw, yang sejak dalam kandungan sudah ditinggalkan oleh ayahnya, Abdullah.
Namun begitu, lingkungan keluarga, masyarakat, dan pergaulan anak tidak bisa dinafikan akan memberi pengaruh pada perkembangan jiwa anak, termasuk jiwa beragamanya. Karenanya, pengajaran agama di masa kecil memberikan bekas yang kuat hingga anak dewasa. Mungkin kita merasakan bahwa, sebagian pemikiran keagamaan kita yang bersifat mendasar, tidak mengalami perubahan, sehingga kita mengamalkan ritual agama dan menjawab persoalan agama dengan penjabaran layaknya seperti pelajaran yang kita terima di waktu kecil.
Dengan demikian, pengetahuan anak terhadap hal-hal gaib diterima secara pengalaman melalui lingkungan sekitarnya. Ini berarti pentingnya pengajaran yang baik untuk memperkenalkan anak pada hal yang gaib tersebut. Sebab, sering terjadi salah pemaknaan anak-anak terhadap hal ini dikarenakan pertentangan pengalaman yang diterimanya dari lingkungan.

No comments:

Post a Comment